Pariwisata Berbasis Masyarakat Jadi Arah Pengembangan Wisata Sleman

share on:
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman, Edy Winarya (tengah) || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Pemerintah Kabupaten Sleman terus mendorong pengembangan sektor pariwisata berbasis masyarakat sebagai strategi utama memperkuat daya saing destinasi wisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga. Pendekatan tersebut dinilai mampu menciptakan destinasi yang lebih berkelanjutan dan tahan terhadap berbagai dinamika di sektor pariwisata.

BACA JUGA: Pengurus Trah Adipati KRT Djajadiningrat Dilantik, Disbud Magelang Apresiasi Rawat Sejarah

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman, Edy Winarya, mengatakan pembangunan destinasi wisata harus diawali dengan niat dan komitmen kuat dari para pengelola. Selain itu, aspek kelembagaan, kesiapan destinasi, infrastruktur, hingga strategi pemasaran juga menjadi faktor penting yang perlu dipersiapkan.

BACA JUGA: Hasto Wardoyo Lepas Kontingen HW DIY ke LPB V Nasional, Bawa Nama Harum Yogya

“Kalau ingin membangun tempat wisata atau rekreasi, yang pertama harus dikuatkan dulu niat dan tekad pengelolanya. Kemudian kelembagaannya harus jelas, biasanya berada di bawah naungan kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Setelah destinasi dan infrastrukturnya siap, tinggal menentukan strategi pemasaran dan pangsa pasarnya,” ujar Edy.

BACA JUGA: DPRD Sleman Berharap Pelayanan PBG Dipercepat, Warga Diimbau Tak Gunakan Calo

Menurutnya, pengembangan pariwisata di Sleman saat ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang menitikberatkan pada konsep atau pariwisata (community based tourism) berbasis masyarakat. Konsep tersebut diwujudkan melalui pengembangan desa wisata yang melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, bukan sekadar penonton.

BACA JUGA: Raudi Akmal Ditahan di Wirogunan, Begini Sikap PAN Sleman

“Kalau didukung masyarakat, destinasi wisata akan lebih tahan lama. Dalam konsep desa wisata, keterlibatan masyarakat harus lebih dominan,” katanya.

BACA JUGA: Gempar! Kejati DIY Geledah Kantor Dinas Koperasi di Jalan HOS Cokroaminoto Yogya

Untuk mendukung pengembangan tersebut, Dispar Sleman menjalankan berbagai program peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), mulai dari pelatihan pelayanan wisata, sertifikasi kompetensi, hingga pendampingan pemasaran digital dan penyusunan paket wisata bekerja sama dengan biro perjalanan.

BACA JUGA: Tutup Tahun dan Pentas Seni KB Putra Handayani Berlangsung Semarak

Meski demikian, Edy mengakui masih terdapat sejumlah tantangan di lapangan. Salah satunya adalah keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki komitmen tinggi dalam mengembangkan destinasi wisata berbasis masyarakat.

“Membangun destinasi wisata berbasis masyarakat tidak bisa instan. Dalam satu tahun belum tentu hasilnya terlihat. Yang sulit justru menemukan orang-orang yang militan untuk menggerakkannya,” ujarnya.

BACA JUGA: Presiden Terima Lencana Emas KTNA, Diakui Berpihak pada Petani dan Nelayan

Selain itu, persaingan antar destinasi wisata di Indonesia semakin ketat sehingga inovasi menjadi kebutuhan mutlak. Pemanfaatan teknologi juga dinilai penting untuk menjawab kebutuhan wisatawan, terutama dalam hal reservasi dan promosi.

Dari 82 desa wisata yang ada di Sleman, sebanyak tujuh desa wisata telah berstatus mandiri. Menurut Edy, desa wisata dengan tingkat kunjungan tinggi umumnya merupakan desa yang mampu memanfaatkan teknologi dan menghadirkan inovasi.

BACA JUGA: 356 Petugas PPIH Daker Makkah Tiba di Tanah Air, Bawa Pengalaman untuk Penguatan Layanan Haji

Ia juga menyoroti perubahan perilaku wisatawan yang kini cenderung memilih konsep micro tourism, yakni perjalanan wisata dengan durasi lebih singkat dan lokasi yang relatif dekat dari tempat tinggal.

Ke depan, Edy berharap sektor pariwisata mampu memberikan dampak ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat. Saat ini, kontribusi sektor pariwisata terhadap pendapatan asli daerah (PAD) Sleman telah mencapai lebih dari 30 persen atau sekitar Rp289 miliar.

BACA JUGA: Terkait Penahanan Raudi Akmal, Ini Respon Baharuddin Kamba dari JCW

“Wisata Sleman tidak akan berkembang tanpa kolaborasi berbagai pihak. Kami ingin dalam 10 tahun ke depan wajah pariwisata Sleman semakin baik dan manfaatnya semakin dirasakan masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi C DPRD Sleman, Untung Basuki Rahmad, menegaskan bahwa pembangunan destinasi wisata, termasuk yang memanfaatkan tanah kas desa, tetap dimungkinkan selama mengikuti aturan dan prosedur yang berlaku.

BACA JUGA: Rezeki Mitra Ojol dari MyPertamina, 25 Yamaha Lexi Dibagikan pada BOOM Periode 1

“Batasannya hanya satu, yaitu harus sesuai aturan. Tanah dan sumber daya alam memang untuk kesejahteraan manusia, tetapi perlu diatur agar tidak terjadi benturan kepentingan,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa wilayah Sleman telah memiliki zonasi pengembangan pariwisata yang jelas. Wisata alam, wisata perkotaan, hingga wisata berbasis pertanian telah memiliki kawasan pengembangan masing-masing.

BACA JUGA: Brigjen Yuniar Pimpin Pertemuan Perdana Dewan Pengawas RS Dokter Soetarto

Menurut Untung, wilayah Sleman Barat memiliki potensi besar untuk dikembangkan melalui konsep wisata pertanian. Salah satu contoh yang berkembang adalah wisata edukasi pertanian di Kampung Daratan yang menawarkan pengalaman menanam padi dan diminati wisatawan dari berbagai daerah, termasuk Jakarta.

BACA JUGA: Advokat Akasa Surya Amicitia SH: Korban Dugaan Penganiayaan di Gondokusuman Terima RJ

“Setiap musim liburan bahkan tidak mampu menampung seluruh wisatawan yang datang. Mereka menginap di homestay milik warga setempat,” katanya.

Terkait pengembangan wilayah, DPRD Sleman juga menaruh perhatian pada kawasan Sleman Barat yang selama ini dianggap tertinggal dibanding wilayah lain. Kehadiran infrastruktur baru, termasuk akses jalan dan rencana pintu keluar utama jalan tol di kawasan tersebut, diharapkan dapat menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi dan pariwisata.

BACA JUGA: Terdakwa Penyalahgunaan Merek Usaha Diganjar Penjara 6 Bulan Percobaan 10 Bulan

“Selama ini Sleman Barat seperti berada di bagian belakang. Ke depan kami ingin mengubah kawasan yang dianggap terbelakang itu menjadi wajah depan Kabupaten Sleman,” ujarnya.

Untung juga menilai sektor pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta perlu mengembalikan identitas khasnya agar mampu bersaing dengan daerah tujuan wisata lain. Menurutnya, kekuatan utama Yogyakarta terletak pada wisata pendidikan, religi, budaya, dan alam.

BACA JUGA: Oknum Anggota Dewan Sleman Ditahan Kejaksaan, Ini Penyebabnya

“Jangan sampai modernitas justru menggeser identitas wisata yang menjadi ciri khas Yogyakarta. Jika kembali menguatkan wisata pendidikan, religi, budaya, dan alam, saya yakin pariwisata Sleman dan Yogyakarta bisa kembali berjaya,” sebutnya. (*/Opo)


share on: