Pantai Trisik, Ketika Nasionalisme Mulai Berbisik

share on:
Wisatawan lebara mulai memadati patai Trisik || Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (KULONPROGO) - Tak banyak diketahui publik bahwa Laut Selatan menduduki peranan penting dalam perkembangan narasi keindonesia. Perubahan nama dari Samudera Hindia menjadi Samudera Indonesia ternyata pernah digelorakan oleh Bung Karno saat berkunjung di Pantai Trisik, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulon Progo DIY pada tahun 1951. 

Dalam sebuah kunjungan tahun 1951, Presiden Republik Indonesia yang piawai dalam membangkitkan nasionalisme itu memperkenalkan nama Samudera Indonesia sebagai sarana agar rakyat lebih mencintai negara yang belum lama diproklamasikan. Bukan kebetulan jika pada salah satu sudut Pantai Trisik berdiri monumen berupa tangan mengepal berbalut Merah Putih yang dibangun Dinas Pariwisata Kulonprogo.

“Dalam rangka kunjungan resmi Bung Karno menurut tetua di tempat kami, mengubah nama Samudera Hindia menjadi Samudera Indonesia. Selain itu kehadiran beliau juga sebagai penanda perubahan nama padukuhan kami dari Trisik menjadi Sidorejo,” papar Edi Yulianto (Ketua Pokdarwis Banaran) kepada yogyapos.com Minggu (23/4/2023) sore di basecamp Pokdarwis Trisik.

Harapannya, lanjutnya, agar warga pesisir yang dulu marginal atau hidup di bawah garis kemiskinan, menjadi reja atau sejahtera di masa mendatang. “Dan ini terbukti, sekarang masyarakat kami hidup sejahtera dengan mengolah berbagai sumber daya yang ada di sini,” tandasnya sambil memperlihatkan foto Bung Karno saat berkunjung ke Trisik.

Potensi dan narasi yang dimiliki kawasan Trisik sebenarnya cukup lengkap dan mengagumkan. Selain pernah dikunjungi presiden pertama RI, juga memiliki jejak sejarah yang potensial untuk dikembangkan. Selain keberadaan situs peninggalan Pesanggrahan Trisik tempat tetirah dan rekreasi KGPAA Paku Alam V, juga keberadaan Kanal Gunsairo. Kanal atau selokan yang melintang sejak jalan Daendels sampai tepi pantai ini dibangun untuk mengairi persawahan.

Kanal Gunsairo bikinan Jepang || YP-Wahjudi Djaja

Selain potensi sejarah, kawasan Pantai Trisik juga menjadi area konservasi penyu terbesar di Kulon Progo, tambak udang, tempat pelelangan ikan, konservasi cemara, muara Kali Progo dan konservasi mangrove. Dengan laguna yang indah, pantai ini juga menjadi tempat migrasi ribuan burung secara berkala.

Menurut Wahjudi Djaja SS MPd dari Pokja Ketahanan Ekonomi Badan Kesbangpol  DIY, potensi dan narasi yang dimiliki kawasan Trisik bisa dijadikan fondasi untuk membangun sebuah destinasi yang berkarakter. “Posisinya yang strategis di tepi jalur selatan dan tak jauh dari Bandara YIA menyediakan peluang yang amat besar. Apalagi antara YIA dan Yogyakarta belum ada destinasi besar dan berkualitas yang bisa dijadikan transit wisatawan dari dan ke bandara,” ujarnya.

Narasi sejarah tentang kehadiran Bung Karno, keberadaan Pesanggrahan Trisik dan Kanal Gunsairo, lanjutnya, jelas akan meningkatkan daya tarik wisatawan yang sangat besar jika dikelola dengan benar “Kita berharap agar momentum ini digunakan sebaik mungkin oleh Pemkab Kulon Progo agar secara serius dan terpadu membangun destinasi yang benar-benar berkarakter sehingga menjadi alternatif bagi wisatawan,” tandas Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (KASAGAM) ini.

Dalam pantauan yogyapos.com permasalahan sampah memang menjadi pekerjaan rumah tersendiri. Hal ini bukan tidak disadari oleh Edi Yulianto. “Keberadaan muara Kali Progo selain memberikan nilai tambah, juga berdampak pada kebersihan Pantai Trisik. Sampah dari Kali Progo masuk dan bergerak ke arah Trisik karena keberadaan penangkal di sisi selatan (Bantul). Ini yang membuat kami kerepotan,” paparnya. (Iud)

 

 

 


share on: