Yogyapos.com (GUNUNGKIDUL) - Tak banyak yang tahu bahwa geolog kenamaan dari Jerman, Franz Wilhelm Junghuhn, pernah menginjakkan kakinya di Pantai Ngungap yang berada di Kalurahan Pucung, Girisubo, Gunungkidul. Jejak berupa tebing cadas memanjang yang pernah dia singgahi tahun 1856 itu bisa dilacak tidak saja dari lukisan berjudul "Sudkuste bei Rongkop" (Pantai selatan di Rongkop), tetapi juga fondasi bangunan tua dan kisah yang masih hidup di masyarakat.
Tebing terjal yang masih menampakkan aura mistis itu bisa ditempuh 2 jam dari Yogyakarta yang berjarak sekitar 80 km. Saat yogyapos.com, Minggu (4/12/2022) menyusuri kawasan pesisir pantai karang bertebing terjal ini memang menemukan fenomena alam yang menakjubkan. Pantai Ngungap seolah menjadi perisai tanah Jawa dari gemburan ombak Laut Selatan. Di puncak bukit menyajikan pemandangan alam yang damai, tenang, hening sehingga wisatawan bisa healing sambil menikmati panorama Laut Selatan dan jajaran perbukitan karst.
Diskusi pengembangan wisata Pucung di Balai Dusun Wotawati || YP-Wahjudi Djaja
Selain menyajikan keindahan pesisir pantai karang, Pantai Ngungap juga menyediakan spot foto yang istimewa, pemancingan ikan laut, area camping ground, sunset yang indah dan sarang burung walet dibalik tebing.
“Dulu kami memiliki tradisi memamen sarang burung walet ini, tetapi sempat beberapa lama berhenti. Kini kami coba angkat kembali untuk mendukung pengembangan sektor pariwisata. Apalagi disini dulu katanya ada menara mercusuar bikinan Belanda,” ungkap Estu Dwiyono.
Sementara itu, Aris Arif Mundayat, memberikan masukan agar pengembangan pariwisata harus berbasis masyarakat agar mereka tidak hanya sebagai penonton apalagi kurban pembangunan.
“Dua pilar perekonomian desa bisa berkolaborasi, yakni Bumdes dan Pokdarwis. Kita dorong agar keduanya mampu mengambil dan memainkan peran penting dalam optimalisasi potensi desa,” ungkapnya.
Antropolog Dr Aris Arif Mundayat, Lurah Pucung Estu Dwiyono SPd, Carik Pucung Eko Sujarno, Pokdarwis Pucung Sunyi Setiyawan, konsultan pariwisata Wahjudi Djaja SS MPd, dan Moh Iqbal Yusron (pengurus Ikatan Mobil Indonesia dari Komunitas 4xJ) serta warga menyusuri pantai karang yang menjadi andalan Kalurahan Pucung. Mereka sebelumnya menggelar diskusi pengembangan potensi Pucung di Balai Dusun Wotawati yang berada di Lembah Bengawan Solo Purba.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-hendak-dikirim-sarapan-ternyata-sudah-gantung-diri-4186
Terkait pelestarian kawasan geoheritage karst yang dilindungi Unesco, redaksi yogyapos.com menerima rilis dari Koalisi Masyarakat Pemerhati Karst Indonesia. Tak kurang dari 26 lembaga yang peduli dengan kelestarian karst menandatangani pernyataan sikap. Mereka berpendapat jika kawasan karts dikurangi maka selain akan menyebabkan tiadanya kepastian hukum, juga merusak lingkungan, menimbulkan bencana, dan mengganggu kawasan karst yang telah dijadikan warisan dunia oleh Unesco.
Lukisan Junghuhn tengang Pantai Ngungap (dulu dikenal dengan Rongkop) || YP-Wahjudi Djaja
“Kami, masyarakat koalisi pemerhati karst di Indonesia dengan ini menyampaikan penolakan terhadap pengurangan luasan Kawasan Bentang Alam Karst dan memohon dukungan kepada Bapak Gubernur DIY untuk melakukan tindak lanjut terhadap permohonan kami mengenai rencana pengurangan luasan Kawasan Bentang Alam Karst yang diusulkan oleh Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul,” tulis pernyataan tersebut.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-wotawati-saat-matahari-terlambat-terbit-7242
Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn dikenal sebagai ahli botani, geologi dan pengarang dari Jerman. Lahir di Mansfeld Jerman pada 26 Oktober 1808 dan meninggal di Hindia Belanda pada 24 April 1864. Beberapa karyanya antara lain Topographische und naturwissenschaftliche Reisen durch Java (Penjelajahan Topografis dan Ilmiah di Jawa), Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und Innere Bauart (Jawa - Bentuknya, Permukaannya dan Susunan Dalamnya), dan Reizen door Java, voornamelijk door het oostelijk gedeelte van dit eiland (Bepergian Melalui Jawa Terutama Melalui Bagian Timur Pulau Ini).
Tokoh yang dikenal sebagai penanam pohon kina pertama di Indonesia itu dimakamkan di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. (Iud)
