Yogyapos.com (SLEMAN) - Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Desideria Cempaka Wijaya M SSos MA PhD, mengembangkan proyek “Panduan Wisata Multisensori Inklusif: Menuju Pariwisata Budaya yang Aksesibel di Tamansari” melalui pendanaan Dana Indonesia Raya program Kajian Objek Pemajuan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan 2026. Proyek tersebut resmi diluncurkan di Joglo Tamansari pada Jumat (22/05/2026).
BACA JUGA: Bergerak dari GIK, Ribuan Peserta Meriahkan Jogja Run D-City 2026
Panduan wisata multisensori inklusif ini dirancang untuk mendukung aksesibilitas wisata budaya bagi penyandang disabilitas, khususnya teman netra dan tuli. Produk yang dikembangkan meliputi peta multisensori, audio navigasi, video bahasa isyarat Indonesia (JBI), serta peta braille yang masih dalam tahap penyelesaian.
BACA JUGA: Slemania, Karnaval dan Multitude
“Ini sebuah panduan wisata multisensori inklusif. Kami mencoba memberikan fasilitas bagi tiga kelompok disabilitas, yaitu teman netra, teman tuli, dan pengguna kursi roda,” jelas Desideria.
BACA JUGA: Seluruh Jemaah Haji Indonesia Tiba di Makkah, Kemenhaj Matangkan Layanan Armuzna
Berbeda dengan pendekatan yang bersifat top-down, pengembangan panduan ini dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan komunitas disabilitas sejak tahap perancangan hingga pengujian. Masukan dari pengguna menjadi dasar dalam penyempurnaan berbagai fitur agar sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
BACA JUGA: 129 Downhiller Berkompetisi Keras di Seri Perdana 76 Indonesian Downhill
“Teman-teman netra justru menyarankan menggunakan PDF karena mereka sudah memiliki aplikasi pembaca layar sendiri di handphone. Jadi kami menyesuaikan dengan kebutuhan dan kebiasaan mereka,” ujarnya.
BACA JUGA: Paguyuban Satriyatama Gelar Pameran Keris dan Bursa Tosan Aji di Rumdis Bupati Magelang
Pendekatan kolaboratif tersebut mendapat apresiasi dari berbagai komunitas disabilitas yang terlibat dalam proses pengembangan. Taufik, salah satu peserta uji coba dari komunitas netra, menilai keterbukaan tim peneliti dalam menerima kritik menjadi kekuatan utama proyek ini.
BACA JUGA: Hoax! Narasi Larangan Pertalite untuk Kendaraan Merk Tertentu per 1 Juni 2026
“Terima kasih khususnya kepada Bu Desi yang mau menerima kritik dan saran dari kami. Semoga panduan ini dapat memberikan manfaat bagi teman-teman tunanetra yang berkunjung ke Tamansari,” ungkap Taufik..
BACA JUGA: Lingling Perantau Asal Malang Jadi Sorotan, Siap Tampil Perdana di Sinetron Nasional
Sementara itu, bagi teman tuli, tersedia peta digital yang terhubung dengan video berbahasa isyarat Indonesia (JBI). Perwakilan Kawedanan Radya Kartiyasa Keraton Yogyakarta, KRT Jati Hadiningrat, turut menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan wisata budaya inklusif di Tamansari.
BACA JUGA: Menteri LH Jumhur Hidayat Cemaskan Gejala 'Ghost Fishing'
“Panduan wisata multisensori inklusif ini menjadi bentuk inovasi pelayanan wisata budaya yang lebih ramah, partisipatif, dan berkeadilan. Melalui audio guide, video guide, serta panduan braille, pengunjung disabilitas diharapkan dapat menikmati nilai budaya Tamansari secara lebih aksesibel,” ungkapnya.
BACA JUGA: Bermula Hubungan Asmara Kini Saling Berperkara, RJ Masih Wacana
Ngadiman, pendamping komunitas netra, menilai panduan yang disusun sangat membantu pengguna saat menjelajahi kawasan wisata. “Berdasarkan uji coba yang dilakukan tiga kali, banyak revisi dilakukan mulai dari area tiket hingga menjelajahi Tamansari. Informasi langkah, jarak, hingga tangga dijelaskan dengan jelas sehingga sangat membantu,” jelas Ngadiman.
BACA JUGA: Ini yang Dilakukan Walubi dalam Rangkaian Perayaan Waisak 2570 BE
Sementara itu, Zaka, teman tuli, turut memberikan tanggapannya terhadap panduan wisata yang telah dikembangkan.
“Brosur panduan ini sudah kami review dan sangat memuaskan hasilnya. Harapan saya, brosur ini dapat terus dipertahankan dan teman tuli tetap dilibatkan apabila ada perubahan,” ungkap Zaka.
BACA JUGA: Hari Jadi ke-110 Sleman, Sultan HB X: Menjadi Ajang ajang Mulat Sarira Bermartabat
Ke depan, UAJY berharap model panduan wisata multisensori yang dikembangkan di Tamansari dapat menjadi inspirasi bagi destinasi budaya lainnya di Indonesia dalam membangun pengalaman wisata yang terbuka, ramah, dan dapat diakses oleh semua kalangan tanpa terkecuali. (*/Red)
