UPAYA untuk menciptakan kesejahteraan lahir batin masyarakat berangkat dari filosofi dasar keistimewaan. Bagaimana kita memaknai prinsip hamemayu hayuning bawono, sangkan paraning dumadi dan manunggaling kawula gusti, menjadi tolok ukur keberhasilan pembangunan bidang kebudayaan. Ketiganya menginspirasi jajaran Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulon Progo dalam menggerakkan program dan kebijakan dalam kerangka pemajuan kebudayaan.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-puluhan-ribu-kendaraan-bermotor-masuk-ke-wilayah-yogyakarta-9259
Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Kulonprogo, Dra Niken Probo Laras SSos MH kepada yogyapos.com menanggapi pertanyaan tentang kinerja dan pencapaian program kerja selama 2022, Senin (26/12/2022). Dalam rangka mewujudkan kesejahteraan lahir batin itu, lanjutnya, peranan dana keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi elemen penting.
“Dengan danais kami telah melakukan berbagai program kegiatan dalam melestarikan, melindungi, memanfaatkan dan mengembangkan semua objek pemajuan kebudayaan sebagaimana tertuang dalam UU No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan Perdais No 3 Tahun 2017 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Kebudayaan,” papar mantan Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo ini.
Inovasi Dinas Kebudayaan Kulon Progo yang berbasis budaya lokal menarik untuk dicatat. Misalnya fragmen Tari Suroloyo Wrehaspati untuk mendukung upacara jamasan pusaka di Puncak Suroloyo dan Sendratari Tribuana Manggala Bhakti untuk mendukung upacara agama Budha.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-pengurus-atmo-5-kulonprogo-dikukuhkan-6089
“Sendratari Nyi Ageng Serang dan Tari Nyi Ageng Serang yang kami ciptakan bersama para seniman Kulon Progo akan menjadi icon Gerbang Samudera Raksa di Kalurahan Banjaroya, serta penciptaan Tari Sri Kayun sebagai tari penyambutan resmi tamu yang telah ditetapkan oleh Bupati Kulonprogo,” tandasnya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-smk-ypkk-kulonprogo-lakukan-revitalisasi-sekolah-5578
Beberapa program yang ada dalam catatan redaksi yogyapos.com dan perlu diapresiasi antara lain Sanja Budaya untuk memperkenalkan kembali kebudayaan agar lebih dicintai, fasilitasi upacara adat, pembinaan SDM upacara adat dan penghayat kepercayaan, Festival Kebudayaan Yogyakarta, gelar potensi rintisan Kalurahan Budaya, lomba dan festival seni tradisi, pelatihan dan pameran seni rupa, serta pembinaan film. Juga penghargaan terhadap seniman dan budayawan, pameran koleksi museum, peringatan hari bersejarah, serta pentas bahasa dan sastra.
Terkait kesejarahan dan pemeliharaan cagar budaya, pihaknya membuat dokumentasi video tentang Kota Wates Lama, pabrik gula Sewugalur, pembuatan buku sejarah Nyi Ageng Serang dan Rawa Gentan, juga program Art for Children dan Art for Milenial untuk memberi ruang bagi generasi muda.
Dalam upaya pembinaan seni tradisi, Disbud Kulon Progo memberi hibah peralatan permainan tradisional dhakon (congklak) dan bakiak sebanyak 25 set untuk 25 rintisan kalurahan budaya kategori berkembang. Bantuan berupa kostum dan alat kesenian diberikan kepada Paguyuban Manunggal Budoyo, Paguyuban Qasidah Fii Sabilillah, Paguyuban Keroncong IRLETA, Paguyuban Angguk Putri Sekar Kencono, dan Sanggar Langit Alang-Alang.
“Kami berharap agar bantuan kecil tersebut bisa bermanfaat untuk mengembangkan budaya di wilayah masing-masing. Ini sebagai stimulan dan harapan kami stimulan tersebut bisa dikembangkan sendiri oleh setiap kalurahan,” pungkasnya.
Menyambut pergantian tahun 2022/2023 Dinas Kebudayaan Kulon Progo menggelar Menoreh Music Fest 2022 di Exhibition Hall Taman Budaya Kulonprogo menampilkan Larva Band Jogja, TPOF Band, dan Jogja Koes Plus Community pada 31 Desember 2022 mulai 19.30.
Sementara di Alun-alun Wates dipergelarkan wayang kulit dengan dalang Ki Wisnu Hadi Sugito dengan lakon Kembang Dewaretna mulai 20.00 WIB. Rencananya dimeriahkan dengan Gelar Gelur Krumpyung Lesung dan Tari Angguk Putri dari karyawati Dinas Kebudayaan Kulonprogo.(Iud)
