Nelayan Sadeng Gelar Tradisi Pethik Laut Larung Samudera 2022

share on:
Jelang prosesi Tradisi Pethik Laut di Pelabuhan Sadeng || YP-Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (GUNUNGKIDUL) - Mensyukuri limpahan rezeki yang diberikan Tuhan,  para nelayan dan warga menggelar tradisi Pethik Laut Larung Samudra di Pelabuhan Sadeng, Girisubo, Gunung Kidul. Sambil melepas sesaji ke laut, mereka berdoa agar selalu diberi keselamatan dan keberkahan selama mencari ikan. Tradisi tahun ini diselenggarakan lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.

Ratusan warga dari Kalurahan Pucung dan Songbanyu Kapanewon Girisubo mengenakan pakaian adat sejak pagi. Prosesi yang dimulai pukul 09.00 pada Jumat (12/8/2022) terlihat begitu sakral dan khidmat. Beragam sesaji dinaikkan perahu oleh para nelayan menuju laut untuk dilarung atau dilepas.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-hen-parcha-rilis-serentak-3-videoklip-kau-masih-milikku--7103

Menurut Lurah Pucung, Estu Dwiyono SPd, acara petik laut atau sedekah laut merupakan acara rutin tahunan yang diselenggarakan oleh kelompok nelayan Pantai Sadeng, Girisubo. 

“Sedekah laut adalah bentuk rasa syukur nelayan atas hasil panen ikan selama satu tahun terakhir. Dengan rasa syukur tersebut, besar harapan kami di tahun berikutnya hasil tangkapan ikan akan jauh lebih banyak lagi,” tandasnya.

 BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-ritual-melasti-bakal-digelar-di-pantai-parangkusumo-1786

Lebih jauh Estu menyampaikan, ada yang berbeda antara tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya. “Rangkaian acara yang dibuat lebih meriah. Mulai pasar malam, pertunjukan kesenian reog, campursari, jathilan, ketoprak, dangdut,  tledek, wayang kulit, dan yang lainnya,” tukasnya.

Terkait dengan tradisi tersebut, kepada yogyapos.com, antropolog Aris Arif Mundayat PhD menyampaikan Pethik Laut merupakan tradisi Pantai Selatan Jawa termasuk Sadeng di Gunung Kidul.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-150-petugas-berjaga-di-tiga-pantai-menghalau-wisatawan-4402

“Upacara tersebut merupakan rasa syukur terhadap Pencipta Alam Semesta yang telah memberikan hasil bumi. Dalam tradisi tersebut, hasil Bumi tidaklah sekedar berasal dari daratan semata namun juga merupakan satu rangkaian hubungan antara langit yang memberi hujan kepada Bumi, yang dengan aliran sungainya memberi kesuburan dan kemudian air tersebut berujung di Lautan,” paparnya.

Lebih jauh disampaikan Aris, pelarungan sesaji berupa hasil bumi dengan dihantar ke tengah lautan diiringi perahu yang dihias berwarna-warni tidak hanya untuk seisi laut.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-silaturahmi-fkub-dan-wabup-dilanjut-pelepasan-tukik-di-pantai-goa-cemara-7700

“Namun juga dimaknai dalam keseluruhan mata rantai ekologis bahwa air laut yang menguap akan menjadi hujan dan akan kembali dalam bentuk hujan yang melimpahkan hasil bumi. Semua itu adalah kesadaran theo-ecologis masyarakat Jawa pantai Selatan. Dan ajaran tersebut terkandung dalam agama-agama yang hidup di Indonesia,” tandas alumnus Swinburne University Of Technology Australia ini.

Salah seorang warga Pucung, Robi Sugihastanto yang dimintai pendapatnya oleh yogyapos.com menyampaikan harapannya, semoga panen ikannya lebih banyak lagi. “Kami juga berharap semoga bisa melirik wisata dan budaya di sekitaran Sadeng, tentunya untuk Kalurahan Pucung, agar bisa mendatangkan manfaat yang lebih besar,” harapnya.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-nikah-bareng-di-pantai-krakal-maharnya-sepiring-lobster-7161

Tradisi Pethik Laut diselenggarakan selama dua hari mulai Kamis 11/8/2022 sampai Jumat 12/8/2022. Selain digelar pasar UMKM se-Girisubo, juga dipentaskan karawitan dan Jatilan (Songbanyu), Toklek dan Ketoprak (Pucung) serta turnamen bola voli se-Kapanewon Girisubo. Sedangkan hiburannya selain pasar malam juga pentas OM Bintang Fortuna (Yeni Inka dan Difarina Indra) serta wayang kulit dengan dalang Ki Warseno Slank dan Sumarbayo Gareng.

Hadir dalam tradisi Pethik Laut di Pelabuhan Sadeng antara lain utusan Gubernur DIY, utusan Bupati Gunung Kidul, Dinas Pariwisata Gunung Kidul, Dinas Kelautan dan Perikanan Gunung Kidul, Dinas Kebudayaan Gunung Kidul.  (Iud)

 


share on: