Yogyapos.com (KLATEN) – Kehidupan kita adalah kehidupan air, sebagaimana dulu ada peradaban lembah Sungai Nil dan lembah Sungai Bengawan Solo. Nah,kalau sungai-sungai sudah rusak, maka hulunya juga akan rusak.
“Makanya Mbak Rosita punya istilah Nandur Tuk Air atau menanam Mata Air. Itu konsep besar dalam rangka memelihara lingkungan kita dari berbagai kerusakan yang terjadi,” kata Prof Dr Suratman MSc, Dosen UGM dan Pakar Mitigasi Bencana Geografi Fisik dan Lingkungan, didampingi Pendiri Yayasan Kinarya Anak Bangsa, Rosita YM Wibawa, di Rawa Jombor, Bayat, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (27/8/2024) lalu.
Para peserta diskusi || YP-Sarwanto H Swarso
Menurut Prof Suratman, sekarang ada 5 isu besar yang menjadi konsen berbagai pihak, yakni: masalah planet, orang/rakyat, kemakmuran (prosperity), perdamaian (peace) dan kerjasama (partnership), sehingga implementasinya nanti untuk masalah krisis air, kesehatan, krisis pangan, ekonomi kreatif, dan lainnya. Mereka bekerja metod policy. Gerakan ini jika didukung policy yang memadai, ada anggaran, ada yang mengasuh, maka mereka bisa bekerja lebih cepat.
“Dengan Kinarya ini, mereka akan bekerja lebih cepat, menguatkan NGO-NGO di PBB untuk Indonesia bisa lebih cepat tercapai,” ujarnya. Disampaikan juga dengan kecukupan air yang berkualitas kehidupan kita akan lebih makmur.
Prof Dr Suratman MSc (kaos kuning) bersama sebagiann peserta || YP-Sarwanto H Swarso
Sementara itu Pendiri Yayasan Kinarya Anak Bangsa, Rosita YM Wibawa mengungkapkan kepada yogyapos.com bahwa selama ini lembaga yang diasuhnya sudah melakukan gerakan kemanusiaan berupa penanggulangan kekeringan atau kesulitan mendapatkan air bersihdi musim kemarau, untuk wilayah Kabupaten Klaten Jawa Tengah dan Gunungkidul DIY, berupa droping air bersih atau bantuan air bersih dan bibit tanaman.
Namun begitu, kegiatan sosial yang ia lakukan selama ini hanya bersifat instan atau solusi jangka pendek. Ia bersama teman-temanya dari berbagai komunitas, berharap ada solusi permanen, seperti eksplorasi sungai bawah tanah dan perawatan lingkungan dengan cara gemar menanam pohon.
Suasana diskusi || YP-Sarwanto H Swarso
“Pohon yang kita tanam itu akan mampu menahan air dan kecukupan oksigen berkualitas yang sangat dibutuhkan oleh manusia,” kata Rosita yang kini berprofesi sebagai notaris di Jakarta dan tak lama lagi menyelesaikan pendidikan S3-nya,
Ia menambahkan, bersamateman-teman dari berbagai komunitas dalam rangka gemar menanam pohon itu, perlu membudayakan tanam pohon untuk menandai momentum kelahiran, pernikahan dan lain-lain.
“Untuk merespon kebutuhan akses air bersih, Kinarya Anak Bangsa melakukan inisiatif Sustainable Development Goal dengan Nandur Tuk Banyu sejak tahun 2018,” ujar Rosita.
Rosita menegaskan, dalam rangka nnanur Tuk Banyu, ia memiliki 3 pilar penting. Yakni: pilar lingkungan, pilar ketahanan keluarga dan pilar budaya.
Menurutnya, alam itu bijak. Kinarya Anak Bangsa mendapatkan kolaborasi dengan berbagai pihak di dalam World Water Forum di 2024.
“Kami dipandu oleh nilai-nilai inti kami yaitu komitmen terhadap lingkungan dan kesejahteraan sosial, keterlibatan masyarakat, inovasi dan pembangunan berkelanjutan, transparansi dan akuntabilitas, kolaborasi, serta pendidikan dan kesadaran masyarakat. Melaluitim yang berdedikasi dan kemitraan strategis, kami berupaya mewujudkan masa depan yang lebih cerah bagi seluruh masyarakat Indonesia,” katanya.

Sementara itu Ketua Omah Pitulungan Kotagede Yogyakarta, Muhammad Satriya Wibawa, menyambut baik gerakan sosial yang dilakukan Rosita dan kawan-kawannya itu. Gerakan ini murni gerakan sosial yang kehadirannya saat ini sangat ditunggu oleh masyarakat DIY, Jawa Tengah, bahkan untuk seluruh masyarakat Indonesia yang saat ini menunggu uluran tangan dan kasih sayang dari mereka, karena kekeringan yang terjadi dimana-mana, akibat kemarau tahun ini yang lumayan panjang.
“Saya bersama beberapa teman dari alumni UGM, meskipun bersifat pribadi-pribadi, sudah melakukan gerakan kemanusiaan ini, yakni berupa pengadaan Penampungan Air Hujan (PAH), untuk tempat memanen air hujan saat musim hujan tiba nanti, atau tempat menyimpan stok air yang dibeli dari penjual air swasta, berupa tangki kelilingan. Memang kegiatan ini bersifat solusi pendek dan harus segera dilakukan. Tapi untuk solusi jangka panjangnya, kita bisa bergandengan tangan dengan lembaga-lembaga yang lain, agar adasolusi yang permanen,” pungkas Satriya Wibawa yang didampingi stafnya, Kuntardi. (Sarwanto H Swarso)
