Muktamar ke-48 Aisyiyah Siap Gaungkan Pemilu 2024 yang Berkeadaban

share on:
Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Menjelang Muktamar ke-48 ‘Aisyiyah pada November 2022 mendatang, Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah telah menyusun sembilan isu-isu strategi yang akan diusung dalam Muktamar, yang harus segera direspons dan dampaknya luas yaitu Pemilu 2024 berkedaban.

“Nantinya sepuluh isu strategis ini juga menjadi bagian dari rekomendasi ‘Aisyiyah kepada pemerintah. ‘Aisyiyah akan mendorong agar isu-isu strategis ini menjadi isu proritas yang harus segera ditindaklanjuti,” tegas Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini, dalam siaran persnya, Selasa (1/11/2022).

Kesembilan isu mencakup penguatan peran Strategis Umat Islam dalam mencerahkan bangsa, penguatan perdamaian dan persatuan bangsa. Pemilihan umum yang berkeadaban menuju demokrasi substantif. Optimalisasi pemanfaatan digital untuk atasi kesenjangan dan dakwah berkemajuan. Menguatkan literasi nasional.Ketahanan keluarga basis kemajuan peradaban bangsa dan kemanusiaan semesta. Penguatan kedaulatan pangan untuk pemerataan akses ekonomi, penguatan mitigasi bencana dan dampak perubahan iklim untuk perempuan dan anak. 

Akses perlindungan bagi pekerja informal, dan penurunan angka stunting. 

menjelang Pemilu pada 2024, Aisyiyah juga menjadikan isu pemilihan umum yang berkeadaban menuju demokrasi substantif sebagai salah satu dari isu strategis. Pemilu 2024 merupakan pemilihan serentak, mulai dari pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, pemilihan legislatif di tingkat pusat, provinsi, dan daerah, hingga pemilihan kepala daerah. 

“Sebagai sistem demokrasi untuk menjaring kepemimpinan di tingkat nasional maupun lokal, hendaknya pemilu dilakukan secara berkeadaban baik oleh semua pihak yang terlibat, baik itu penyelenggara, elit pemerintahan, partai politik, para calon serta pemilih agar pemilu mendatang bisa mencerminkan kualitas demokrasi,” demikian Noordjannah.

Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Pusat Aisyiyah, Tri Hastuti Nur Rochikah, mengungkapkan, belajar dari pemilu terdahulu, belum menunjukkan perilaku yang berkeadaban dan demokrasi berkualitas. Ia mencontohkan itu mencakup fenomena politik pragmatis, politik uang yang sangat memprihatinkan, oligarki politik, orientasi kekuasaan yang sangat kuat sehingga segala cara ditempuh untuk mendapatkan kekuasaan tersebut. Bahkan dengan menguatnya politik identitas yang masih berlanjut pasca-pemilu sehingga mengganggu kehidupan kebangsaan yang damai dan kolaboratif. 

“Indonesia sebagai Bangsa yang besar dengan keragaman suku, ras, agama, golongan, dan budaya memerlukan sistem pemilu dan perilaku politik yang memperkuat persatuan dan menjunjung perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bukan sebaliknya, pemilu yang menyisakan permasalahan yang membawa perpecahan sosial, sikap masyarakat yang pragmatis dengan politik uang, saling menyerang antar pendukung di media sosial, permainan hasil suara dan lain-lain,” katanya.

Terkait dengan mulai ramainya wacana pencalonan jelang pemilu 2024, Tri berpesan, agar tidak membuat gaduh dan menimbulkan perpecahan yang dapat menjadi embrio kemunculan kembali politik identitas. Harapannua wacana yang muncul dan diperbincangkan justru terkait dengan isu-isu maupun problem sosial ekonomi yang dihadapi bangsa ini dan harus dicarikan jalan keluar. 

Pihaknya juga menggarisbawahi tentang keterwakilan perempuan dalam kelembagaan penyelenggara pemilu di semua tingkatan. Misalnya saja, ia mengingatkan, bahwa pendaftaran Panitia Pemilihan Kecamatan dan Panitia Pemungutan Suara sudah dimulai  pada pertengahan dan akhir November 2022 ini.  

“Pemilu selama ini belum menunjukkan keberhasilan proses rekruitmen perempuan dalam lembaga legislatif dan eksekutif. Keterwakilan perempuan belum mencapai 30%,” ujar Sekretaris PP ‘Aisyiyah ini. 

Tri juga melihat, ada beberapa faktor penyebab, seperti budaya patriarki yang masih mengutamakan laki-laki sebagai pemimpin khususnya di bidang politik, kaderisasi partai bagi perempuan belum optimal, daya dukung ekonomi dan lainnya. Apalagi fenomena politik berbiaya tinggi yang masih mewarnai praktik politik di negeri ini, juga menjadi kendala tersendiri dan turut mengurangi ketertarikan perempuan di wilayah politik.  

Padahal, keterwakilan dan kepemimpinan perempuan sangat penting di berbagai level dan ruang publik untuk memajukan kehidupan masyarakat dan bangsa. Perempuan dipandang memiliki tingkat kepedulian yang lebih tinggi pada persoalan yang dihadapi masyarakat. Apalagi terkait dengan isu-isu perempuan, anak, maupun kelompok marjinal. (Spd)

 


share on: