Merti Selokan Mataram Dusun Gangsingan Onggojayan Jadi Ajang Silaturahmi

share on:
Kenduren Merti Selokan Mataram diatas Bendungan Sipon, Dusun Gangsingan,Onggojayan, Banyurejo Tempel || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Warga masyarakat Gangsingan,Onggojayan,Banyurejo Tempel mengadakan Merti Selokan Mataram. Tujuannya bukan sekedar melestarikan budaya, namun juga sebagai ajang silaturahmi antar warga, pamong dan para pimpinan di Sleman. Selain itu , memahami nilai spiritualitas atas pembangunan selokan ini. Acara berlangsung, persis di atas bendungan sipon, Sabtu petang (7/5/2024).

Lurah Banyurejo Saparjo ST dalam sambutannya mengungkapkan merasa senang Merti Selokan Mataram berada di atas bendungan Sipon. Tempat ini sering dipamerkan bila ada tamu yang datang, terutama dari Jakarta.

BACA JUGA: Soliditas Peradi Yogya Kian Rekat, Halal bi Halal Idul Fitri 1445 H Dihadiri Ratusan Anggota

“Sulapan, sungainya hilang. Lho sungainya  kok tiba-tiba airnya hilang, muncul di sini. Teknologi yang luar biasa, warisan budaya  yang perlu disyukuri,” katanya.

Disamping itu, air Selokan Mataram memberikan manfaat yang besar. Serta menandakan teknologi yang sudah maju. Dengan bersyukur, lewat merti ini selokan  dirawat bersama-sama.

BACA JUGA: Durian Jadi Sasaran Bidik untuk Pengembangan Perekonomian Sleman

Perlu diketahui, air Selokan Mataram ini, masuk wilayah di DIY, tepatnya di dusun Gangsiran. Teknologi sipon, menyebabkan air yang berada di wilayah Magelang Jawa Tengah, melintasi sungai Krasak tidak nampak. Tiba-tiba muncul di Gangsiran.

Sementara itu, Kepala Kundha Kabudayan Sleman Edy Winarya SSn MSi menerangkan melalui acara budaya ini untuk mengingatkan peranan para leluhur di masa lampau. Terutama Sri Sultan Hamengku Buwana IX.

BACA JUGA: 1.094 ASN Sleman Ikut Memeriahkan Lomba Olah Raga Tradisional

“Keberadaan selokan ini gagasan beliau yang luar biasa, spektakuler. Wujud nyata Ngarsa Dalem, tahta untuk rakyat,” katanya dengan duduk di atas tikar bersama-sama dengan para warga.

Kepala Kunda Kabudayan Sleman Kab Edy Winarya sedang menanam pohon gayam || YP-Ist

Ide brilian Sultan, Edy melanjutkan, waktu itu agar warga masyarakat tidak dibawa Jepang untuk kerja-paksa, romusha. Gagasan spektakuler dari sisi spiritualitas. Menghubungkan air Kali Progo di barat dan air Kali Opak di timur. Mewujud dalam bentuk saluran air sepanjang sekitar 30,8 km. Selanjutnya, mengairi ribuan hektare lahan persawahan.

BACA JUGA: Gunakan Pedang Ancam Orang, Dua Tersangka Diproses Hukum

Edy juga menerangkan nilai-nilai filosofi dan spiritualitas. Sebab, hal ini yang penting dalam melakukan acara budaya merti selokan. “Dalam kepemimpinan, air memiliki filosofi yang tinggi, bukan sekedar sumber kehidupan. Air akan  mengalir mencari tempat yang kosong,” tandasnya.

Awal yang baik ini, kata Edy, merti Selokan Mataram dapat dijadikan sarana untuk mengenalkan kepada generasi muda. Pentingnya nilai-nilai spiritulaitas dalam pelestarian adat budaya dan tradisi. Mengerti sejarahnya, maknanya dan tujuan dibangunnya Selokan Mataram.

Acara yang berlangsung sederhana ini, juga dihadiri Drs Untung Waluya Ketua  Forum Komunikasi Masyarakat Adat dan Tradisi Kabupaten Sleman (FKMATS), Santosa SPd yang pernah mejabat Kasi Atlas Disbud Sleman, Kawit Sudiyono Sesepuh Trah Ki Ageng Wonolelo, juga anggota FKMATS.

BACA JUGA: Tertimpa Reruntuhan Rumah, Seorang Buruh Bangunan Meninggal Dunia

Setelah berdoa bersama yang dipimpin rois setempat, para tamu undangan yang hadir melakukan kembul bujana bersama warga masyarakat. Dikemas seperti kenduri, merti desa. Terasa guyub-rukun makan bersama di bendungan sipon.

Merti Selokan Mataram, ditandai pula dengan penanaman pohon gayam di bantaran Sungai Krasak, dilakukan oleh Edy Winarya, Saparjo, serta tokoh masyarakat setempat. Penanaman ini dipimpin oleh Untung Waluya yang juga mantan Kepala Dinas Kebudayaan Kulonprogo. (*/Agn)

 


share on: