Mengenal JHC Kern, Indolog dan Ahli Jawa Kuna Universitas Leiden Kelahiran Purworejo

share on:
Johan Hendrik Caspar Kern

FOTO profesor sepuh itu tergantung di dinding Ruang Senat (Senaatkamer) Academiegebouw (Gedung Akademi) Universitas Leiden di kawasan Rapenburg bersama dengan foto-foto professor lain yang pernah berkhidmat di Universitas Leiden. Tidak ada ciri yang mencolok dari foto itu di antara foto para profesor yang berkhidmat pada peralihan abad ke-19 dan ke-20 kecuali jambul. 

Rambut agak panjang dan kumis serta cambang lebat juga dimiliki para profesor lain. Namun, jika dipandang dengan lebih cermat keterangan yang ada di bawah foto barulah diketahui bahwa profesor sepuh itu dilahirkan di sebuah kota kecil di Indonesia tiga tahun setelah berakhirnya Perang Jawa. Di situ tertulis “geboren te Poerworedjo”.

Profesor sepuh tersebut, Johan Hendrik Caspar Kern, guru besar dengan banyak kepakaran dan banyak penguasaan bahasa asing (polyglot) yang diakui kejeniusannya oleh banyak kalangan dilahirkan di Purworejo, ketika masih berada di wilayah Karesidenan Bagelen, pada 6 April 1833. 

Ia berasal dari keluarga seorang opsir NIL bernama J.H. Kern. Pada 1838 Kern kecil mengikuti ayahnya yang mendapatkan tugas baru sebagai komandan garnisun di Benteng Vlaardingen, Makasar. Sang ayah mendapatkan tugas khusus untuk mengamankan seorang tawanan penting dari masa Perang Jawa yang berakhir delapan tahun sebelumnya. Masih lekat dalam ingatan Kern pada seorang tawanan di benteng itu, yang pada kelak kemudian hari dikenalnya sebagai Pangeran Diponegoro ketika dia diajak ayahnya menemui Sang Pangeran (Huizinga, 1899: 1-2 dan  Caland, 1918: 1-2). 

Meskipun demikian, perjumpaan itu tidak memiliki arti khusus dalam perjalanan karier Kern sebagai guru besar terkemuka Jurusan Indologie pada Universitas Leiden. Kern lebih menaruh perhatian pada studi Jawa Kuno di samping minat utamanya pada studi bahasa dan sastra Yunani, Persia, dan Sansekerta.

Perhatian H. Kern terhadap bahasa Jawa Kuna terentang dalam kurun waktu hampir lima puluh tahun. Pada kurun waktu itu empat edisi teks lahir dari tangannya: Wrttasancaya (1875), Ramayana (1900), Kunjarakarna (1901), dan Negarakertgama (1903—1914). (Molen, 2011: 26—27). 

Dalam hubungannya dengan kolonialisme, pada 1880, H. Kern pernah berkorespondensi dengan K.F. Holle, pekebun, penasihat pemerintah, dan ahli bahasa yang berkedudukan di Jawa Barat. Dalam suratnya, Kern mengatakan bahwa masih banyak hal yang harus dilakukan sebelum Belanda dapat menyatakan mereka telah menaklukkan Nusantara secara rohaniah (geestelijke verovering). Pernyataan ini ditegaskan lagi oleh Kern pada peringatan hari jadi  ke-50 KITLV (Lembaga Kerajaan Belanda untuk Bahasa, Geografi, dan Etnologi) pada 1901 yang pada saat itu merupakan salah satu lembaga penting dalam tata kelola kolonialisme Belanda.

Kern mengemukakan bahwa selama lima puluh tahun keberadaannya, KITLV telah mencapai kemajuan besar, tetapi untuk bisa dinyatakan bahwa Belanda telah berhasil menaklukkan Nusantara secara rohaniah secara sempurna tetap masih banyak upaya yang harus dilakukan.  Selain peningkatan pengetahuan bahasa, geografi, dan etnolologi wilayah jajahan, juga perlu ditingkatkan pemahaman tentang peradaban para penduduknya. Menurut Kern, sarana yang paling tepat untuk pelaksanaan misi  ini adalah pembelajaran bahasa Belanda (Kuitenbrouwer, 2001: 79).

Dalam Kongres XXIV Bahasa dan kesusastraan Belanda pada 1899, Kern mengemukakan bahwa hanya melalui bahasa Belanda dan watak Eropa bangsa Belanda dapat mempertahankan harga dirinya dalam waktu yang lama dan menanamkan pengaruhnya yang hebat terhadap penduduk wilayah seberang lautan mereka (Groeneboer, 1993: 225—226).

Pada forum yang sama R.M.P. Sosrokartono, salah seorang mahasiswa Kern di Universitas Leiden yang memiliki kefasihan dalam berbagai bahasa asing seperti Sang Guru mendukung gagasan gurunya. Dalam pidato yang diucapkannya ia menekankan pentingnya pembelajaran bahasa Belanda bagi penduduk Bumiputra.

Sosrokartono menjelaskan bahwa bahasa Belanda dapat membangkitkan cinta dan simpati kepada Belanda  seperti seorang pengasuh dengan anak asuhannya (leidsman en kind) karena sebagian besar masyarakat Bumiputra tidak merasakan manfaat dari pemerintahan Belanda. Bahasa Belanda juga dapat membantu mengembangkan rakyat Bumiputra dari fase kanak-kanak menuju manusia dewasa (van kind tot man) (Poeze, Harry A., 1986: 30-31). 

Pada 4 Juli 1917, guru besar terkemuka Universitas Leiden kelahiran Purworejo ini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 84 tahun di Utrecht. Di Indonesia Kern dikenang sebagai perintis Studi Bahasa dan Sastra Jawa Kuno. Di samping itu, pemikirannya tentang tanah asal orang Indonesia dan persebaran  bahasa Austronesia kadang-kadang masih dikutip para peneliti meskipun riset-riset yang lebih kemudian tentang itu sudah banyak dilakukan. (Dr Sudibyo MHum adalah Filolog dan Dosen FIB UGM asal Purworejo)

 


share on: