Yogyapos.com (KULONPROGO) - Generasi penerus perlu diberi ingatan kolektif yang positif seperti nilai-nilai kejuangan. Di sepanjang Bukit Menoreh terdapat banyak peristiwa sejarah mulai Pangeran Diponegoro sampai Sanoen. Jika ingatan kolektif ini tidak dirawat, tentu bisa hilang. Sehingga perlu upaya-upaya yang sistematis untuk merawat ingatan kolektif bangsa.
Demikian pesan Penjabat Bupati Kulonprogo Drs Tri Saktiyana saat talk show Mengenang Pejuang Sanoen yang digelar Dinas Kebudayaan Kulon Progo di Alun-alun Wates Jumat (5/5/2023) malam.
Tampil sebagai narasumber lain adalah Rektor IKIP PGRI Wates Dr Joyo Sumpana MPd, Dansat Brimob Batalyon B Pelopor Sentolo AKP Edi Efiyanto, SH dan Sejarawan UGM Dr Ahmad Athoilah MA dengan moderator Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah UGM Wahjudi Djaja SS MPd.
Tri Saktiyana menegaskan, kalau ingin menghancurkan suatu bangsa, lanjutnya, biasanya yang pertama dihancurkan adalah kebanggaannya. “Dan kebanggaaan itu salah satunya adalah ingatan-ingatan kolektif yang bisa menumbuhkan rasa bangga, semangat dan perjuangan yang tinggi,” tandasnya.
Lebih jauh diuraikan, Sanoen pada awalnya bukan siapa-siapa. Dia hanya pemuda desa, anak seorang petani, pendidikannya hanya ongko loro, dan meski polisi Sanoen hanya Agen Polisi Tingkat II.
“Jadi untuk menjadi seorang pahlawan tak perlu pendidikan tinggi, orang kuat, orang kaya atau bintang empat. Ini yang unik dari diri Sanoen. Dia adalah Pahlawan Kerakyatan,” ungkapnya.
Kalau generasi muda tidak memiliki memori tentang Diponegoro atau Sanoen, pesannya, maka memori akan digantikan oleh super hero dari luar negeri yang barangkali sangat artifisial.
“Jadi tujuan kita merawat memori kolektif ini adalah agar tidak tergantikan oleh memori kolektif bangsa lain agar kita tidak terputus sejarahnya. NKRI ada karena ada kesatuan sejarah. Ketika kita tidak merasa menjadi satu kesatuan sejarah, senasib seperjuangan, pasti sulit merawat persatuan dan kesatuan bangsa,” jelasnya.
Dalam laporannya Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Dra Niken Probo Laras, SSos MH menyampaikan, Sanoen adalah sosok tentara pelajar yang gugur dalam operasi militer di kawasan Bantar pada 4 April 1949 dalam usia 23 tahun.
“Rangkaian acara Mengenang Pejuang Sanoen antara lain Pentas Seni Jathilan (Move Art Dance), teatrikal Kabut di Atas Bantar, Talk Show Budaya dan Sendratari Kolosal Satya Satria Sanoen. Dihadiri generasi muda Kulon Progo dan para siswa SMA, SMK serta delegasi mahasiswa IKIP PGRI Wates,” tandasnya. (Iud)
