Yogyapos.com (BANTUL) – “Simbah (Sunan Geseng) itu hidup di era Demak Bintoro, Kasultanan Islam yang lebih tua bila dibanding Pajang dan Mataram. Meski begitu Beliau sempat mengalami masa Mataram awal dengan Panembahan Senopati sebagai raja pertamanya. Beliau itu, santrinya Kanjeng Sunan Kalijaga,” ujar Juru Kunci Makam Sunan Geseng, Supardiyono mengawali perbincangan dengan yogyapos.com, Minggu (11/6/2023).
Makam Sunan Geseng terletak pada sebuah bukit di Padukuhan Jolosutro, Kalurahan Srimulyo, Kapanewon Piyungan, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Makam waliullah yang ditetapkan statusnya sebagai Benda Cagar Budaya Peringkat Kabupaten sejak 8 Juli 2020 ini dianggap keramat sering menjadi tempat orang bertirakat. Walaupun terkadang hanya satu orang, tetapi tiap hari selalu ada yang melakukan tirakat.
Pintu pusara Sunan Geseng || YP-Yuliantoro
Ritual yang sering dilakukan di makam tersebut antara lain: berpuasa, berdzikir, bermujahadah, membaca sholawat dan muqodaman (mengkhatamkan kita suci Alquran).
“Saya sudah sebulan ini tinggal di makam. Tiap hari puasa, berdzikir, membaca Alquran dan melaksanakan sholat wajib maupun berbagai sholat sunat. Kalau capai atau ngantuk ya tidur. Kalau waktunya berbuka puasa yang buka seadanya, minum, makan seadanya,” ujar Parno, pentirakat asal Godean, Sleman.
Ia menuturkan, laku tirakat di makam Sunan Geseng karena dawuh (perintah) guru ngajinya dengan tujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Dengan iman dan taqwa yang kuat diharapkan kuseksesan dunia akhirat dapat diwujudkan.
“Dawuh tirakat paling tidak ya selama tiga bulan atau secukupnya. Sukses dunia akhirat itu, ya Insyaa Allah hajat dan cita cita mulia dapat diraih dengan penuh berkah,” ujar Parno lagi.
Supardiyono, Juru kunci Makam Sunan Geseng
Supardiyono, juru kunci Makam Sunan Geseng yang bergelar Mas Bekel Suraksowijoyo (65) mengatakan bahwa makam Sunan Geseng selalu didatangi peziarah dari berbagai daerah, baik dari desa sekitar maupun dari beberapa kota lain di Pulau Jawa. Mereka yang datang mulai dari masyarakat kecil, pejabat daerah, pejabat pusat dari Jakarta.
“Tiap hari ada yang tirakat di Makam Sunan Geseng. Namanya makam waliullah, ya pasti menjadi jujukan orang, santri yang ingin tabarukan,” terangnya.
Sunan Geseng merupakan tokoh yang berperan dalam penyebaran agama Islam di Jawa. Sunan Geseng merupakan murid dari Sunan Kalijaga yang diyakini merupakan keturunan dari raja Girindrawardhana, Raja Majapahit terakhir. Nama kecil Sunan Geseng adalah Raden Mas Cokrojoyo.
Supardiyono menceritakan bahwa sebelum menjadi wali yang menyebarkan agama Islam, Cokrojoyo bekerja sebagai penderes air nira. Biasanya ketika Cokrojoyo menderes nira, ia sering menyenandungkan ‘lilo-lilo-lilo-lilo’ yang artinya ‘sabar-sabarlah’. Senandung ini dimaksudkan untuk menghibur diri dari kehidupan dunia yang keras.
“Senandung tersebut didengar oleh Sunan Kalijaga dan diminta supaya diganti menjadi laa ilaaha illallah,” kata juru kunci yang sudah keturunan ke delapan dari juru kunci pertama makam Sunan Geseng
Saat Cokrojoyo melaksanakan perintah Sunan Kalijaga dan menyenandungkan kalimat tauhid tersebut, buah-buah kelapa yang bunganya dideres berubah menjadi emas. Cokrojoyo pun meminta Sunan Kalijaga agar menjadikannya sebagai murid. Sunan Kalijaga bersedia mengambil Cokrojoyo sebagai murid asalkan Cokrojoyo mau bertapa di hutan dan beribadah kepada Allah. Cokrojoyo menyanggupi persyaratan tersebut.
Masih cerita Supardiyono, bahwa dalam pertapaannya hutan tempat Cokrojoyo bertapa habis terbakar. Akan tetapi karena ketaatannya pada Sang Guru, beliau tetap bertapa hingga api padam. Ketika Cokrojoyo ditemukan oleh Sunan Kalijaga, Cokrojoyo selamat meskipun kulitnya hangus atau geseng.
Komplek makam Sunan Geseng Jolosutro || YP-Yuliantoro
Dalam versi lain, dikisahkan ketika Sunan Kalijaga mencari Cokrojoyo, lokasi sekitar tempatnya bertapa telah menjadi semak belukar. Karena sulit menemukan Cokrojoyo Sunan Kalijaga kemudian membakar belukar itu. Meski selamat, tubuh Cokrojoyo yang terbakar menjadi hitam legam atau gêsêng.
“Maka disebut Sunan Geseng (gosong akibat terbakar),” jelanya.
Pengunjung yang hendak berziarah pada Sunan Geseng harus menundukkan kepala ketika memasuki bilik makam. Di atas pintu bilik terdapat papan bertuliskan huruf Jawa dan bahasa Jawa yang apabila dibaca berbunyi: “Sunan Geseng Cokrojoyo ngulama luhur manunggaling kawula Gusti. Arti dari tetenger di atas: Sunan Geseng Cokrojoyo ulama luhur bersatunya manusia dengan Tuhan” (Yuliantoro)
