Yogyapos.com (SLEMAN) - Kesadaran berbudaya mempersatukan masyarakat yang berlatar belakang dari berbagai etnis. Juga, konteks historis memudahkan komunitas atau anggota masyarakat masa kini beradaptasi di tempat perantauan.
Seperti halnya mahasiswa asal Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan yang merantau untuk menuntut ilmu di Yogyakarta. Mereka cenderung lebih mudah beradaptasi dengan kultur Jawa, khususnya sub kultur Yogyakarta karena memiliki pertalian historis di masa silam. Misalnya, keberadaan kampung Bugisan, baik di Prambanan maupun di Kota Yogyakarta maupun Daengan. Kedua nama kampung itu diambil dari kata Bugis (etnis di Sulawesi) dan Daeng (gelar aristokrasi khas Sulawesi).
Tari Madero dibawakan mahasiswa Luwu Timur, Sulsel saat pentas seni, Sabtu (3/6) malam di halaman Omah Lurah Lawas Balong || YP- R Toto Sugiharto
Demikian disampaikan Robertus NS Lamanepa SSi selaku pengelola Omah Lurah Lawas Balong, Tegal Balong Kalurahan Umbulmartani Kapanewon Ngemplak, Sleman, Senin (5/6/2023).
Robert sendiri berasal dari Flores, Nusa Tenggara Timur yang juga sudah merantau sejak 1985 dengan menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung. Terhitung sejak Jumat (2/6) siang hingga Minggu (4/6) sore homestay milik F Janu Hardjoko SH yang dikelola Robert disambangi 30-an mahasiswa yang tergabung dalam Forum Mahasiswa Kabupaten Luwu Timur (Forma Lutim) Yogyakarta. Mereka mengadakan kegiatan pelatihan keorganisasian, kepemimpinan, outbound, dan bakti sosial.
“Dengan pendekatan budaya, proses komunikasi dengan adaptasi lebih mudah. Ada kedekatan Sulawesi dengan Yogya, misalada kampung Bugisan, Daengan. Dengan pengenalan kampung yang familier, jadi brigade (prajurit) keraton terdiri orang Sulawesi Selatan. Ini memberi mereka animo positif dan jadi bagian dari Yogya. Prinsipnya saya lihat ada rasa bangga dari mereka,” ungkap Robert.
Ketua Forma Lutim Yogyakarta Gerry mengilustrasikan, tujuan kegiatan sebagai upaya pematangan berorganisasi serta pembekalan manajemen. Karena, mahasiswa dan mahasiswi aktif di organisasi. Selain itu, juga untuk penguatan kader dan menyiapkan sumberdaya lokal setelah selesai studi, pulang dan berbakti bagi daerah.
Mahasiswa Luwu Timur, Sulsel outbond di Tuk Bulus, kolam pemandian tradisional milik warga Padukuhan Tegal Balong || YP-Dok Forma Lutim Yogyakarta
“Kita juga belajar mengenal budaya Yogya yang secara kultur jauh berbeda dengan Sulawesi Selatan. Kami jadi terbuka dan mendapatkan tempat belajar segalanya, sopan santun, dan lainnya,” ucap Gerry yang mulai merantau di Yogya pada 2018.
Selain mengikuti pelatihan, mereka juga menggelar acara rekreatif, seperti pentas seni dengan menari adat tradisi Madero sebagai tari persahabatan, menyanyi, dan musikalisasi puisi “Rindu” karya Yelki Rudolf Lasampa serta outbond di Tuk Bulus, kolam pemandian tradisional milik warga Padukuhan Tegal Balong. (R Toto Sugiharto)
