Yogyapos.com (YOGYA) - Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji SIP MIP menjadi dosen tamu dalam mata kuliah Pemberdayaan Masyarakat Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota di Kampus 2 Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), Glagahsari, Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta, Rabu (18/6/2025).
Kuliah umum yang berlangsung pukul 08.00 WIB ini diikuti 55 mahasiswa dan menghadirkan praktik nyata pemberdayaan masyarakat dari Kalurahan Condongcatur. Acara ini digelar atas undangan Dosen UTY Arum Rusmartini, ST, MT, pengampu mata kuliah Pengembangan Masyarakat Angkatan 2023 yang juga merupakan istri Panewu Ngaglik.
BACA JUGA: Reka Ulang Duel di Bawuran, Korban & Tersangka Sempat Salaman Sebelum Tewas
Dalam paparannya, Reno meng angkat berbagai program inovatif pemberdayaan masyarakat yang telah dilaksanakan di wilayahnya. Ia menekankan pentingnya kola borasi antara warga dan pemerin tah dalam menciptakan peruba- han sosial, ekonomi, dan lingkungan.
Beberapa studi kasus yang disampaikan antara lain keberhasilan pemberdayaan masyarakat melalui kader kesehatan untuk penanggulangan stunting, kegiatan posyandu, jumantik, hingga pengembangan KWT, bank sampah, Pmenjadi sorotan adalah program bantuan pembangunan sebesar Rp 40 juta per RW setiap tahun.
Reno bersama para mahasiswa usai kuliah umum || YP-Ist
“Warga dilibatkan sejak perencanaan hingga pelaksanaan dan perawatan hasil pembangunan. Inilah bentuk nyata pemberdayaan partisipatif,” ujar Reno.
BACA JUGA: SMKN 1 Pleret Kukuhkan 284 Taruna
Reno juga mengenalkan SULAPAN (Studi Lanjut Pamong Kalurahan), program kerja sama dengan STPMD APMD Yogyakarta yang mendorong pamong kalurahan melanjutkan studi hingga jenjang doktoral.
“Melalui SULAPAN, Kalurahan Condongcatur memberikan dukungan pembiayaan agar para pamong tidak terbebani secara ekonomi dalam mengembangkan kapasitasnya,” jelasnya. Beberapa pamong bahkan telah menyelesaikan studi pascasarjana.
Menurut Reno, peningkatan kualitas akademik pamong bukan sekadar formalitas. “Output dari program ini meningkatkan pelayanan masyarakat secara signifikan karena para pamong kini memiliki sudut pandang ilmiah dalam menyelesaikan persoalan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Yayasan Monjali Peringati Peristiwa Penarikan Mundur Tentara Belanda 1949
Kehadiran Reno disambut antusias. Setidaknya sembilan mahasiswa aktif berdialog dalam sesi tanya jawab. Mereka menggali lebih dalam keberhasilan dan tantangan pemberdayaan masyarakat di Condongcatur.
“Desa itu bukan tempat tertinggal, tapi justru tempat tumbuhnya inovasi sosial yang paling nyata,” tegas Reno dalam penutup kuliahnya, seraya mengajak mahasiswa untuk ikut terlibat dalam pembangunan dari bawah. (*/Agn)
