Labuhan Merapi, Pemandangan Lain yang Menarik di Hari Menjelang Pemilu

share on:
Suasana upacara adat Labuhan Merapi di Sri Manganti, kawasan mendekati puncak Gunung Merapi, Senin (12/12/2024)  || YP-R Toto Sugîharto

Yogyapos.com (SLEMAN) - Keraton Yogyakarta melaksanakan Hajad Dalem Labuhan Patuh di Sri Manganti lereng Gunung Merapi, Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Pelaksanaan upacara adat yang dikenal dengan istilah Labuhan Merapi itu jatuh pada Senin Wage 1 Ruwah Tahun Jimawal 1957 atau bersamaan 12 Februari 2024. Ia menjadi pemandangan lain yang menarik perhatian di tengah hiruk pikuk menjelang pelaksanaan pemilu.

Upacara Labuhan Merapi dimulai dari Petilasan Mbah Maridjan di Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman menuju Sri Manganti, berjarak sekitar tiga kilometer kearah utara atau puncak gunung, Senin (12/12/2024) mulai pukul 06.00 WIB.

BACA JUGA: Gejayan Memanggil, Ratusan Massa 'Jagad' Kritik Keras Kemunduran Demokrasi Era Jokowi

Upacara adat tersebut ditandai dengan membawa ubarampe labuhan serta perlengkapan lainnya dipimpin oleh juru kunci Gunung Merapi Wedana Surakso Hargo Asihono.

Juru kunci Merapi Wedana Surakso Hargo Asihono dan para abdi dalem tiba di Sri Manganti memimpin Labuhan Merapi  || YP-R Toto Sugîharto 

Sedikitnya dua puluhan abdi dalem turut mengiringi perjalanan ubarampe menuju lokasi labuhan di Sri Manganti kawasan mendekati puncak Gunung Merapi. Sementara, ratusan warga juga sudah menunggu di lokasi labuhan. Ada yang baru naik selepas subuhan. Ada pula yang bermalam di Sri Manganti. Mereka datang dari berbagai daerah, dari wilayah DIY maupun luar daerah.

BACA JUGA: Demo di Hari Tenang, Desak Presiden Jokowi Jangan Salahgunakan Kekuasaan

Ubarampe yang dipersembahkan sebagai bagian Labuhan, antara lain selembar kain terdiri nyamping cangkring, nyamping kawung kemplang, semekan gadhung, semekang adhung mlathi, semekan bangun tulak, kampuh poleng ciut, dhesthar dara muluk, dan paning setu daraga; sela, ratus lisah konyoh dalam satu tempat, yatra tindhih dalam satu amplop, serta ses wangen 10 batang.

Wedana Surakso Hargo Asihono menjelang selesainya upacara Labuhan Merapi menjelaskan, upacara tersebut sebagai memperingati penobatan yang ke-35 Sultan HB X sebagai Raja di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Upacara adat Labuhan Merapi sebagai bentuk perwujudan rasa syukur atas karunia dan Rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa kepada Sultan, keluarga, kerabat, sentana dalem, dan warga semuanya.

“Kita panjatkan permohanan semoga panjang umur untuk Sultan, keluarga, sentana. Kita semuanya mendapatkan keselamatan serta ampunan, mohon ampun dan perlindungan dari marabahaya, memberi kekuatan, Kesehatan, dan kesuksesan kepada warga yang datang di Merapi,” ucap Asihono. (R Toto Sugiharto)

 

 

 

 

 

 


share on: