Yogyapos.com (BANTUL) - Olahan masakan khas kikil kini hadir di Yogyakarta. Sajian spesial ini bisa dibilang baru, bahkan belum ada sebelumnya. Tertarik? Anda bisa langsung datang ke Warung Cak Jo yang beralamat di Jalan Mawar No B.20 Tamanan Wetan, Kalurahan Banguntapan, Bantul, DIY.
Di sana terhidang menu Kupat Kikil racikan keluarga Gilang, beda sih dengan menu sejenis lainnya. Jika kebanyakan kuliner seperti ini disiram kuah kental bersantan, namun Kupat Kikil Cak Jo menggunakan kuah kaldu dengan memainkan cita rasa rempah di dalamnya.
Owner Kupat Kikil Cak Jo, Rahardja Gilang Dewangkara menuturkan warung ini dirintis secara turun temurun, mulai dari sang nenek, ibunya hingga menurun dirinya. Lebih lanjut kata Mahasiswa Jurusan Teater Institus Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini, bahwa Kupat Kikil merupakan sajian yang dihidangkan setiap Lebaran di keluarga besarnya.
Dari neneknya yang bernama Mulyati, kata dia, pada tahun 1980 pernah membuka warung Kupat Kikil di Surabaya dan sempat membuka tiga cabang sekaligus yakni di Jalan Banyu Urip, Jalan Pandigiling dan Jalan Dukuh Kupang dengan nama Budi Mulya.
“Kupat Kikil ini pertama kali diolah oleh almarhumah nenek saya. Menu khas tersebut selalu dihidangkan saat keluarga besar kami berkumpul ketika Lebaran, jadi Kupat Kikil merupakan makanan yang selalu dirindukan keluarga kami,” ungkap dia yang saat ini tercatat sebagai Mahasiswa Jurusan Teater Institus Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta saat ditemui di warungnya, Sabtu (2/10/2020).
Sepeninggal Mulyati maka Kupat Kikil Budi Mulya tak terdengar lagi. Sejak itulah tak ada keluarga yang melestarikan menu turun temurun tersebut, hingga akhirnya kini Gilang yang tercatat sebagai generasi ketiga mulai mempopulerkan kembali.
“Butuh tiga bulan bagi saya untuk mencoba mengingat menu buatan nenek. Saya dibantu ibu untuk menemukan kembali cita rasa sebenarnya buatan nenek dulu sehingga sajian khas keluarga kami itu kini bisa hadir kembali saat ini,” kata Gilang yang merupakan anak dari desainer Awang Soe Narsihsetyawan atau yang kondang dengan nama Awang Kagunan tersebut.
Kikil maupun jeroan sapi diolah dengan resep rahasia khusus sehingga aroma khasnya terasa dan tetap kenyal saat di lidah. Selain ketupat dan taburan kacang, semangkok Kupat Kikil akan dilengkapi dengan sambal khas yang dibuat dengan olahan cabai dan kemiri.
“Menu Kupat Kikil ini bukan hanya sekedar menjual makanan, namun melestarikan menu dari keluarga kami. Saya sebagai cucu memiliki tanggungjawab agar sajian ini tetap ada dan bisa dikenal pecinta kuliner di Yogya,” kata Gilang.
Semangkok Kupat Kikil dibanderol dengan harga Rp 25.000. Selain Kupat Kikil, di Warung CakJo ada pula Nasi Goreng Krengseng dan bakmi maupun bihun godok atau goreng yang diberi nama menu Djawatimuran seharga Rp 20.000 – Rp 22.000.
Walau baru beberapa hari berdiri, dalam sehari Gilang sudah mampu menyajikan sekitar 100 porsi bagi pengunjung. Untuk jumlah porsi tersebut setidaknya Gilang mengolah sebanyak 7 kg hingga 10 kg kikil dan jeroan yang diolah tiap harinya.
Satu yang unik dari Warung CakJo, di tempat ini ada minuman bernama Jasareh. Menu minuman ini merupakan kombinasi dari jahe, salam dan sereh (Jasareh) yang dipercaya mampu menetralisir kolestrol.
Jadi jangan khawatir untuk makan kikil atau jeroan sapi, karena ada Jasareh. Minuman ini akan menetralkan secara herbal alias alami sehingga kolestrol jahat tidak akan bandel atau bahkan naik kadarnya.
Mengenai warung yang diberi nama CakJo, Gilang mengungkapkan nama tersebut merupakan panggilan sang ibu kepadanya. Saat kecil Awang Kagunan selalu memanggil Gilang dengan nama CakJo di tengah keluarga. Gilang ingin Warung CakJo menjadi kenangan masa kecilnya, berikut dengan Kupat Kikil yang melegenda itu.
Warung CakJo berada di tengah perkampungan, lokasinya yang jauh dari keramaian menambah lengkap tempat kuliner ‘mblusuk’ di Bantul. Suasana pedesaan dapat dirasakan di sini, sehingga siapapun yang datang bisa menikmati kesejukan udara pedesaan dengan sambutan hangat warganya.
Tempatnya yang cukup luas dan jauh dari keramaian menjadikan warung ini cocok untuk dijadikan ruang berdiskusi maupun bercengkerama bersama keluarga. Lokasi pun dapat dengan dengan mudah ditemukan dengan bantuan penunjuk arah Google Map, cukup dengan mengetikkan kata kunci Warung CakJo.
Untuk menjangkau pecinta kuliner lebih luas lagi, Gilang juga memanfaatkan media sosial seperti Instagram, Twitter maupun Facebook sebagai media pemasaran. Menu-menu di Warung CakJo kini juga telah dapat dijumpai dalam jejaring pemesanan online yang siap mengantar olahan lezat berbungkus ‘besek’ itu hingga di depan pintu rumah pemesan.
Tak lama lagi Gilang akan membuka cabang Warung CakJo di pusat kota Yogya. Citarasanya tetap sama karena langsung diolah dan diciptakan sendiri olehnya. Untuk setting lokasinya Gilang selalu akan mengusung tema alam dan tradisional agar pembeli bisa berlama-lama menikmati menu yang disajikan.
“Sukses pada masa muda itu merupakan keberhasilan. Sebagai anak muda kita harus berfikir kreatif dan mampu menciptakan peluang usaha, syukur dapat membuka lapangan kerja bagi orang-orang di sekitar kita,” terang pemuda 20 tahun ini.
Sebagai seorang seniman muda, Gilang yang merupakan pemain teater memanfaatkan ruang publik sebagai sarana komunikasinya kepada masyarakat. Performa art pernah ia lakukan di empat titik persimpangan diantaranya di perempatan ringroad Giwangan, simpang Druwo Jalan Parangtritis, pertigaaan UIN Jalan Laksda Adisutjipto dan perempatan Ngabean Yogyakarta untuk mengenalkan Kupat Kikil CakJo.
Warung CakJo berdampingan dengan galeri milik Awang Kagunan yang telah ada sebelumnya untuk memamerkan hasil rancangan busana koleksinya. Awang Kagunan yang dikenal para pecinta fashion dengan kreasi-kreasi ecoprint menjadikan galeri yang ia beri nama Bale Kagunan sebagai tempat memajang ratusan kain serta pakaian bermotif dedaunan. (*/Eko Purwono)
