Yogyapos.com (SLEMAN) – Memasuki Tahun Akademik baru 2024/2025, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menggelar kuliah pembuka mengusung tema ‘Tantangan dan Etika Pemanfaatan Kecerdasan Buatan untuk Keberlanjutan Energi dan Sumber Daya Alam dalam Mewujudkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan’ melalui Zoom Meeting dan Live Streaming YouTube UAJY.
Narasumber pada kuliah pembuka ini menghadirkan Dewan Pembina The Purnomo Yusgiantoro Centre, Prof Ir Purnomo Yusgiantoro MSc MA PhD dengan moderator Dosen Departemen Informatika UAJY, Joanna Ardhyanti Mita Nugraha SKom MKom.
Wakil Rektor II UAJY, Samiaji Sarosa MIS PhD, mengatakan, sudah menjadi tradisi dari UAJY setiap kali tahun akademik itu, mengadakan kuliah pembuka bagi seluruh mahasiswa baik yang mahasiswa yang sudah bergabung lama maupun mahasiswa baru yang bergabung pada semester gasal tahun akademik yang baruini.
“Harapan kami materi maupun informasi yang disampaikan oleh narasumber dapat membawa manfaat bagi seluruh mahasiswa. Saya yakin nanti akan banyak informasi-informasi baru yang nanti bisa kita pelajari dan bisa kita ambil manfaatnya,” jelas Samiaji.
Narasumber menerangkan mulai dari konsep teknologi, inovasi, megatren global, Artificial Intelligence (AI), dan bagaimana peranan AI. Peran AI beragam dalam kehidupan, dalam transisi energi, desentralisasi dan digitalisasi energi, dan intelijen geospasial.
Peran penting teknologi dan inovasi dalam meningkatkan nilai tambah produk di pasar lokal, regional, dan global, yang berhubungan erat dengan daya saing di tingkat internasional. Ditekankan bahwa perkembangan inovasi suatu negara memiliki korelasi positif dengan PDB, kecuali China, dengan Indonesia berada di peringkat ke-61 dari 132 negara dalam indeks inovasi global (GII) dan memiliki PDB USD 4332.
“Teknologi dan inovasi, khususnya AI dan IoT, termasuk dalam enam megatrend global yang berdampak besar pada berbagai sektor industri. Selain itu, China dan Afrika Selatan berperan penting dalam rantai pasok teknologi global karena mineral kritis yang mereka miliki,” jelas Prof. Purnomo.
Dampak perkembangan teknologi tidak hanya positif, tetapi juga negatif, seperti tergantikannya pekerjaan fisik yang berulang oleh AI. Dalam konteks ini, Kemkominfo menawarkan tiga pendekatan regulasi untuk menangani perkembangan ini, yaitu pendekatan ringan, berbasis risiko, dan keamanan. Hal ini penting diketahui mahasiswa agar mereka memahami dinamika global yang memengaruhi industri dan pekerjaan di masa depan, serta dapat mempersiapkan diri dengan kompetensi yang relevan.
Setelah sesi pemaparan materi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab antara mahasiswa dan narasumber. (*)
