Yogyapos.com (BANTUL) - Ada spot menarik di pusat kuliner sate kambing Jalan Imogiri Timur, Jejeran, Pleret, Bantul. Warung Sate Klathak Mas Fafa menyuguhkan pilihan 'nglatak lan ngopi'.
Pengelola Sate Klathak Mas Fafa, Fajar Akhmad Mu'afi mengatakan kalau hanya menyajikan menu sate klatak itu sudah biasa. Namun mengkolaborasikan warung sate klatak dengan kedai kopi, itu barulah istimewa.

Tamu Sate Klathak || YP-Yuliantoro
Sate Klatak Mas Fafa yang berdiri sejak 2009 terkenal dengan citarasa daging kambingnya yang segar, empuk, dan tidak berbau prengus. Sate yang rasanya gurih ini hanya mengandalkan dua bahan utama sebagai bumbunya yaitu garam dan bawang putih. Untuk pelengkap, sate disajikan dengan kuah gule, kocoran (sambal kecap cair yang diberi daun jeruk), bawang merah, dan lada bubuk. Daging yang digunakan juga selalu segar karena bila habis, segera menyembelih kambing lagi. Daging selalu segar karena sembelihan kambing selalu baru langsung di tempat tersebut.
Sejak Ramadhan pada April 2023 lalu ada tambahan kopi dengan racikan rempah spesial, Kopi ‘Njepat’. Minuman baru ini ternyata langsung disukai oleh para konsumen.
“Kopi Njepat, kopi istimewa hasil kolaborasi dengan Sellie Coffe,”ujar Fajar, Sabtu (3/6/2023).
Sate klatak bumbu garam bawang sedang dibakar dengan tusuk jeruji sepeda || YP-Yuliantoro
Apa itu kopi ‘Njepat’? Masih kata Fafa - begitu Fajar Akhmad Mu'afi akrab dipanggil - kopi ‘Njepat’ terbuat dari campuran biji kopi robusta pilihan terbaik yang dispesialkan untuk penikmat kopi. Kopi Njepat ini cocok untuk pendamping menu sate klathak. “Kopi Njepat Kopi njepat. Kopi racikan khusus Spesial Sate Fafa kolaborasi dengan Sellie coffe,” tegasnya.
Kopi Njepat Istimewa. Menurut Fafa, minuman kopi ramuan Fajar ini seketika bikin kemepyar, otak menjadi “njepat”, inspirasi berdatangan dan membuat pikiran lebih fokus. Kopi ini juga sangat cocok bagi orang yang butuh tambahan stamina saat nglembur tugas kuliah atau pekerjaan. (Karakter kopi Njepat kentel pahit enak di badan.
“Varian kopi lain adalah kopi susu spesial dan Es kopi soda,” Fafa menambahkan.
Kopi soda || YP-Yuliantoro
Sate ‘Klathak’ menjadi kuliner buruan wisatawan ketika tengah berada di Yogyakarta. Rasanya yang empuk dan gurih dengan dengan kuah gule yang segar membuat kuliner khas Dusun Jejeran Bantul itu kian spesial. Daging kambing pilihan ditusuk dengan jeruji sepeda kemudian dibakar. Bunyi bakaran sate yang dilumuri garam kritek kritek itu dikemudian hari menjadi ucapan klathak-klathak. Sate bakar disajikan dengan kuah gule dan bisa ditambah dengan irisan bawang merah dan cabai rawit sesuai selera.
Sate Klathak Mas Fafa berlokasi di Jalan Imogiri Timur Km 9 Jejeran Pleret Bantul Yogyakarta (arah Selatan Terminal Giwangan). Warung kuliner ini luas dan bersih, menempati area lokasi sekitar 7.500 m2 buka nonstop mulai pukul 10.00 – hingga 04.00 WIB. Kapasitas tamu 150 orang, dengan tiga ruangan besar dan kecil, formasi tempat duduk meja kursi serta lesehan sehingga cocok untuk keluarga, rombongan wisata maupun kantor serta.
Sate klatak mentah || YP-Yuliantoro
“Ada juga ruangan untuk rapat-rapat dengan kapasitas puluhan orang,” kata Fafa sembari menunjukkan tempatnya.
Menurut Fafa menjelaskan, sate klathak berasal dari istilah warga sekitar Jejeran untuk daging kambing yang dibumbui garam krosok (garam laut kasar) yang kemudian dipanggang di atas bara arang. Seiring berjalannya waktu, bumbu sate klathak kini tidak hanya garam. Bumbu-bumbu lain, seperti kemiri dan bawang putih, ditambahkan untuk menguatkan cita rasa, tetapi tidak meninggalkan rasa asin yang sudah menjadi ciri khas sate Klatak.
Pemasakan sate klatak bukan menggunakan tusuk bamboo melainkan menggunakan jeruji sepeda proses pemasakan agar cepat mencapai kematangan yang pas. Setiap bagian dari seekor kambing memiliki cita rasa yang khas. Bagian-bagian tertentu cocok untuk masakan-masakan tertentu, misalnya, kepala, sayapan dan tengkuk (cengel) cocok untuk dimasak tongseng.

Selain menu sate klatak, menu lain yang bisa dipilih di Sate Klathak Mas Fafa, antara lain sate bumbu kecap, tongseng, kicik (tongseng dengan kuah sedikit), gulai jeroan, lelung (gule balungan), tengkleng super pedas. “Tengkleng pedas special, ‘balungan’ berdaging sehingga nggak hanya ‘nglamuti tulang saja,” tegasnya.
Ya, selain warung sate yang menempati luas area 7.500 m2 itu, juga difungsikan sebagai peternakan dan tempat penyembelihan kambing untuk memenuhi kebutuhan warung. Masih menurut Fafa, konsep ke depan Sate Klathak Mas Fafa akan terpadu dengan peternakan kambing karena di belakang kini sudah tersebut puluhan ekor kambing pedaging dan kambing perah. (Yuliantoro)
