Yogyapos.com ( SLEMAN) - bercat biru di depan Candi Morangan itu terlihat asri dengan rerimbunan pohon di sekitarnya. Pemilik rumah menyambut hangat kedatangan kami disana, dia adalah pasangan suami istri Sukamdi dan Wijirah. Sukamdi berprofesi sebagai buruh serabutan dengan penghasilan tidak menentu. Sedangkan Wijirah seorang ibu rumah tangga. Namun pasangan ini bukan orang tua biasa karena kedua putrinya berhasil kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-30-dalang-cilik-ramaikan-festival-di-uny-6897
Anak pertama Sukamdi adalah Mutiara Pesona Bil Jannah yang menempuh pendidikan di prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial angkatan 2019. Sedangkan anak keduanya Widya Happy Hakiki juga menempuh pendidikan di prodi yang sama angkatan 2021. Sukamdi mengatakan semula sempat terkejut saat anak sulungnya mengatakan keinginannya untuk kuliah karena tidak mengira bahwa Tia, panggilan akrab Mutiara, ingin melanjutkan pendidikan tinggi.
Menurut Wijirah pada saat Tia mengatakan tentang keinginannya kuliah, warga Morangan Sindumartani Ngemplak Sleman itu gelisah memikirkan ketiadaan biayanya.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-lagi-uny-selenggarakan-wisuda-secara-hybrid-3660
“Saya sempat sakit memikirkan hal itu,” kata Wijirah, Rabu (11/5/2022).
Namun pasangan tersebut sangat bersyukur ketika mengetahui adanya beasiswa Bidikmisi yang sangat membantu meringankan beban mereka dalam menguliahkan kedua anaknya. Sukamdi pada awalnya pesimis Tia dan Happy dapat diterima kuliah mengingat kondisi ekonomi keluarga, namun keberuntungan menaungi keluarga itu karena kedua putrinya diterima kuliah di UNY dimana Mutiara mendapatkan beasiswa Bidikmisi dan Happy mendapatkan beasiswa KIP Kuliah sehingga keduanya kuliah gratis.
Mutiara Pesona Bil Jannah mengungkapkan awal mula mengetahui tentang beasiswa Bidikmisi dari guru BK di sekolahnya. Alumni SMAN 1 Cangkringan itu diterima di UNY melalui jalur SNMPTN. Saat ditanya bagaimana strateginya agar diterima jalur SNMPTN, Tia menjawab bahwa dia melakukan mapping pada teman-teman sekolah tentang pilihan program studi pilihan mereka pada SNMPTN.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-uny-resmi-menyandang-status-ptnbh-8620
“Pada saat itu belum ada persyaratan harus eligible untuk ikut SNMPTN,” kenang Tia.
Akhirnya setelah melakukan mapping, gadis kelahiran 25Oktober 2000 itu memantapkan diri memilih prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan sebagai pilihannya. Mutiara saat ini aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penelitian UNY dan DPM Fakultas Ilmu Sosial. Sedangkan adiknya, Happy diterima di UNY melalui jalur SBMPTN karena tidak lolos eligible SNMPTN. Alumni SMAN 1 Ngemplak tersebut memilih jurusan yang sama dengan kakaknya karena menyukai program studi tersebut. Agar lolos UTBK SBMPTN Happy menyusun strategi belajar, diantaranya belajar setelah subuh.
“Saya juga mencari informasi animo prodi yang diincar agar tidak salah pilih,” katanya.
Gadis kelahiran 1 Januari 2003 itu tidak mengikuti bimbingan belajar karena ketiadaan biaya, namun dia berusaha mengumpulkan soal-soal dan LKS sejak kelas 1 SMA, belajar giat serta mencari informasi soal UTBK dari internet yang sekiranya mirip dengan apa yang diujikan. Berkat ketekunannya, Happy berhasil menjadi salah satu peserta yang lolos SBMPTN di tengah persaingan yang ketat. Happy meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sebesar 3,61 dan Mutiara meraih IPK 3,51 pada saat ini.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-umy-masuk-200-kampus-terbaik-asia--2263
Sekarang, Sukamdi dan Wijirah mencoba peruntungan dengan menanam cabai di Sungai Gendol yang terletak di belakang rumahnya. Setelah penambangan pasir di Sungai Gendol berakhir maka tersisa sejumlah lahan yang dapat ditanami karena terbawa lumpur yang mengandung tanah. Dari sinilah Sukamdi menanam cabai untuk menambah penghasilan keluarga. Namun apabila ada warga masyarakat yang membutuhkan tenaganya maka Sukamdi siap bekerja keras karena menanam cabaiini hanya sebagai sambilan.
Sukamdi dan keluarganya telah memberi bukti bahwa orang miskin tidak haram untukkuliah karena Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi serta Kementerian Keuangan RI memberi dukungan dana melalui beasiswa KIP Kuliah. (Dedy Herdito)
