Yogyapos.com (KEBUMEN) - Suasana guyup rukun dan sakral mewarnai pelaksanaan Kirab Budaya Palakiyah yang digelar pemerintah desa dan warga Watulawang, Pejagoan, Kebumen, Kamis (27/7/2023). Rangkaian acara dari pagi sampai malam itu kembali digelar secara besar-besaran seperti tahun 2019 sebelum pandemi.
Diawali dengan ziarah ke makam leluhur yang berada di puncak Bukit Watulawang, diikuti dengan penyembelihan kambing kendit, suasana benar-benar mistis dan sakral. Kepada yogyapos.com, Kepala Desa Watulawang Wasita, menyampaikan berkah dan manfaat digelarnya tradisi Palakiyah.
“Selain sebagai tanda syukur, Palakiyah ini kami niatkan sebagai merti bumi. Membersihkan energi negatif dan memperbarui niat membangun desa. Selama pandemi Covid-19 alhamdulillah desa Watulawang 0%, tak ada warga yang meninggal karena Covid. Dana desa yang bagi desa lain digunakan untuk penanganan korban Covid bisa kami gunakan untuk membangun infrastruktur seperti jalan, jembatan dan fasilitas warga. Ini sungguh berkah bagi kami,” tandasnya penuh haru.
Sementara itu tokoh muda Kebumen dr. Faiz Alauddien Reza Mardhika dalam sambutannya menyampaikan penghormatan dan kebanggaannya atas digelarnya kirab budaya Palakiyah.
“Suasana dan kehidupan penuh kesahajaan dengan akar tradisi semacam ini sudah sangat jarang ditemukan. Jangankan Jawa Tengah dan Indonesia, Kebumen saja mungkin banyak yang belum mengetahui. Ini harus dijaga agar menjadi pilar persatuan bangsa,” kata Ketua DPD Partai Nasdem Kebumen ini.
Sedangkan dosen STIE Pariwisata API Yogyakarta, Wahjudi Djaja SS MPd selaku fasilitator dalam sambutannya menandaskan pentingnya warga dan pemerintah desa Watulawang menjaga tradisi Palakiyah.
“Ada tiga kunci yang diamanatkan leluhur Watulawang. Pertama, bendera Merah Putih yang dikirab ini sudah dikibarkan sejak pertama Indonesia merdeka, seusia dengan bendera bikinan Ibu Fatmawati. Menjadi penanda lurah yang berkuasa. Kedua, Palakiyah ada tradisi warisan leluhur sebagai mekanisme untuk menjaga kelestarian alam dan manusia di kaki Bukit Watulawang. Ketiga, Watulawang adalah pusat peradaban kuna ditandai pola punden berundak pada makam Watulawang juga beragam jejak dan situs sejarah. Mari ini kita jaga sekuat tenaga dan sepenuh hati,” jelas Ketua Umum Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KASAGAMA) ini.
Kepala Desa Watulawang Wasita membuka kirab budaya Palakiyah 2023 || YP-Wahjudi Djaja
Budayawan muda Kebumen Ravie Ananda SPd menjelaskan, Watulawang ini kawasan geoheritage dengan jejak dan narasi yang lengkap. “Tak banyak yang tahu bahwa yang bersemayam di makam Watulawang itu sosok-sosok yang menjadi pancer keberadaan Panjer Nagari yang kemudian bernama Kebumen. Kawasan ini merupakan demarkasi antara pengaruh Majapahit dengan Pajajaran. Banyak situs dan tempat yang monumental di sini,” paparnya.
Prosesi kirab budaya dipimpin R. Bambang Nursinggih, SSn dari Lembaga Kebudayaan Jawa (LKJ) Sekar Pangawikan. Berangkat dari rumah Kepala Desa Watulawang menuruni bukit menuju batas desa.
Sesampai di batas desa dilakukan puja doa mantra dan kenduri dipimpin juru kunci makam Watulawang, Mbah Suwardi. Selain mengarak gunungan, juga kepala kambing kendit, yakni kambing yang memiliki sabuk melingkar tanpa putus pada perutnya. Daging kambing dimasak dan dibagikan kepada semua warga, sedangkan kepalanya ditanam di batas desa.
Turut memberi sambutan Dukuh Watulawang Juni Setyadi selaku Ketua Panitia Kirab Budaya Palakiyah. Hadir dalam kirab budaya Palakiyah antara lain Forkompimda Kecamatan Pejagoan, Paguyuban Lurah, Satpol PP Kebumen, Babinsa Sukamto, para sesepuh Watulawang, pemerhati budaya dan sejarah serta warga sekitar. Pada malamnya digelar Dzikir Kasepuhan di rumah Kepala Desa Watulawang diakhiri dengan sarasehan. (Iud)
