Kepala BPIP: Halal bi Halal Sebagai Rekonsiliasi Politik

share on:
Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD || YP-R Toto Sugiharto

Yogyapos.com (SLEMAN) - Halal bi halal merupakan ijtihad politik Presiden pertama RI Ir Sukarno pada 1958. Pada era tersebut cenderung terjadi pergolakan dalam kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan politik di Indonesia. Sukarno mencari solusi untuk merukunkan rakyat dengan mengundang KH Wahab Hasbullah.

Tokoh Nahdhatul Ulama tersebut mengusulkan diadakannya forum silaturahmi. Kemudian, Sukarno merealisasikannya dengan forum halal bi halal. Alhasil, forum tersebut sebagai ajang rekonsiliasi politik antarelit hingga ke masyarakat bawah.

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD menyampaikan hal itu pada Syawalan UGM dan KAGAMA 1444 H bertajuk ‘Merawat Ukhuwah Meneguhkan NKRI’, di Balairung Universitas Gadjah Mada, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (6/5/2023).

Acara yang dipandu komedian Anang Batas dan Saka digelar secara luring dan daring melalui kanal Youtube dan Zoom. Hadir dalam acara tersebut, Rektor UGM Prof Prof Dr Ova Emilia MMed Ed Sp OG(K) PhD, Wakil Rektor Dr Arie Sudjito, Dewan Guru Besar, dan jajaran pimpinan rektorat, sivitas akademika, dan sejumlah pengurus KAGAMA dari berbagai daerah.

Menurut Yudian Wahyudi, perayaan Idulfitri dengan halal bi halal dan syawalan yang sudah mentradisi hingga kini mencerminkan kecerdasan bangsa Indonesia sebagai ikhtiar mendapatkan pengampunan lebih besar karena meliputi seluruh umat Islam di Indonesia dengan saling meminta dan memberi maaf. Hanya berbeda dengan Saudi Arabia yang merayakan Iduladha lebih besar daripada Idulfitri namun konsekuensi pengampunannya hanya bagi umat Islam yang menunaikan ibadah haji ke tanah suci.

“Pada saat politik bergolak, Bung Karno menjadikan agama sebagai perekat. Halal bi halal menjadiajangatau forum rekonsiliasipolitik. Karena, minta maaf itu tidak mudah. Memberi maaf juga tidak mudah. Kita harus menurunkan ego masing-masing,” ucap Yudian yang menyelesaikan studi Filsafat UGM tingkat sarjana muda dengan gelar Bachelor of Art (BA)namun menyelesaikan sarjananya di IAIN (sekarang Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Yudian menambahkan, untuk mencapai atau mendapatkan pengampunan, selain dengan berpuasa satu bulan penuh, umat Islam juga melakukan mudik untuk mendapatkan pengampunan sosial dari sesama. Karenanya, mereka yang meninggal dunia dalam perjalanan mudik setara dengan mati syahid. Sedangkan puncaknya, syawalan sebagai akumulasi kerja satu tahun bagi masing-masing umat Islam yang diberikan kepada keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Seperti yang telah dilakukan Presiden Sukarno dengan mendirikan perguruan tinggi UGM pada 19 Desember 1949 dan IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada 23 Desember 1951 merupakan bentuk syawalan, kerja atau amal jariyah Sukarno.

Karenanya, Yudian meminta kepada alumni UGM untuk tetap hidup rukun dalam membaktikan diri demi kemajuan bangsa dan negara. Selainitu, dengan syawalan-nya KAGAMA (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada) kepada bangsa dan negara melalui dua orang alumninya, yakni Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan yang sama-sama dicalonkan untuk kontestasi dalam Pemilihan Presiden 2024 mendatang.

“Syawalannya KAGAMA sekarang in ikan ada dua alumni sebagai capres (calonpresiden). Kelak, kalai salah satusudah terpilih, dilantik, kita turunkan ego masing-masing. Kita Kembali ke peraturan dan undang-undang. Di situ KAGAMA berhasil mengantarkan alumninya untuk Indonesia. Ini Namanya rahmatan lil ‘alamin,” pungkas Yudian. (R Toto Sugiharto)

 


share on: