ORANG Jawa, khususnya Jawa bagian tengah, memaknai kata 'kedung' sebagai bagian dari sungai yang lebar dan dalam atau bagian dari sungai yang berbentuk kolam.
“Dinamakan 'Kedung bumbu' karena bumbu yang digunakan dalam setiap menunya lebih banyak bila dibanding standar bumbu masakan pada umumnya. Dengan bumbu ekstra ini menu yang disajikan jadi lebih lezat dan mantab,” papar pengelola Rumah Makan Kedung Bumbu, Risworo Sigit.
Tersedia ruang lesehan
Sejumlah tamu merasakan nikmatnya santap gurameh bakar asam manis di di Kedung Bumbu. Mereka tak cuma sekali atau dua kali datang ke sana, tapi boleh dibilang sering. Tak sendiri, tapi bareng rombongan keluarga atau kolega.
“Kuliner di sini benar-benar istimewa. Dagingnya terasa lembut, bumbunya berlimpah dan sangat enak,” ujar seorang tamu mengomentari salah satu menu rumah makan ini.
Rumah Makan Kedung Bumbu berlokasi di Jalan Pleret km 2 Potorono Banguntapan Bantul atau lima kilometer tenggara Kota Yogya.
Salah satu menu yang dgemari pengunjung
“Sudah dua tahun beroperasional, tepatnya sejak l Juli 2020. Dengan area yang cukup luas, tempat ini bisa digunakan untuk berbagai acara baik arisan, reunian, rapat, dan hajatan. Menu utamanya adalah berbagai olahan ikan darat maupun 'seafood'. Untuk ikan darat ada gurami, nila, dan lele. Olahan 'Seafood' adalah andalan kami, ada cakalang, aneka kerang, cumi, dan udang,” ujar Sigit lagi.
Kedung Bumbu berdiri di atas area seluas 750 meter persegi. Bangunan utama berbentuk joglo kuno berukuran dua belas kali tiga bebas meter persegi. Selain itu ada dua bangunan limasan, masing-masing berukuran dua belas kali enam meter persegi.

“Kami memang menonjolkan suasana tradisional Jawa. Apalagi rumah makan ini terletak di bekas wilayah Keraton Mataram. Dusun Mertosanan, satu kilometer arah barat Kotagede adalah bekas Ibukota Mataram Islam di jaman Raja Panembahan Senopati. Sedangkan dua kilometer arah selatan Pleret adalah bekas Ibukota Mataram Islam di jaman Sultan Agung dan Amangkurat,” Sigit menambahkan.
Pilihan untuk membuka rumah makan di area ini memang sangat tepat. Selain ingin menjamu konsumen warga sekitar di jalan raya Pleret, juga diharapkan bisa menjadi destinasi wisata kuliner bagi para wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata sejarah dan budaya Kotagede dan Pleret serta kota Jogja umumnya. (Yuliantoro)
