Yogyapos.com (SLEMAN) – Keberadaan desa wisata mempunyai peran penting dalam mendorong percepatan roda pariwisata di Yogyakarta. Oleh karena itu, promosi perlu dilakukan lebih masif melalui berbagai media termasuk diantaranya melalui media online dan aplikasi digital. Namun, yang tak kalah penting adalah mempersiapkan SDM pengelola desa wisata agar lebih siap dalam menghadapi banjir kunjungan wisatawan sebagai dampak dari promosi global.
BACA JUGA: Sidang Korupsi TKD Maguwoharjo, Tim Pengacara Minta Hakim Nyatakan Dakwaan Batal Demi Hukum
Demikian benang merah dari Diskusi Pariwisata yang digelar oleh DPD RI dengan Pengelola Desa Wisata se Kabupaten Sleman yang berlangsung di Asram Edupark pada Senin (5/2/2024). Hadir sebagai narasumber Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman Ishadi Yazid, Ketua Karang Taruna DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu dan Anggota DPD RI Hafidh Asrom.
BACA JUGA: ICMI DIY Menyeru Presiden dan Penyelenggara Pemilu Bersikap Netral
Pada kesempatan tersebut, Ketua Karang Taruna DIY GKR Hayu menyampaikan, promosi pariwisata melalui aplikasi digital merupakan sebuah keniscayaan dan hal itu bisa dilakukan secara bersama-sama dengan melibatkan kaum muda. Sebab, di Yogyakarta ini selain kaya dengan anak muda yang menguasai aplikasi digital, juga terdapat banyak terdapat para influencer yang mempunyai follower belasan juta. Hal ini sangat berpotensi untuk mempromosikan potensi desa-desa wisata yang ada di Yogyakarta.
Anggota DPD RI DIY Hafidh Asrom (kiri) dan Ketua Karang Taruna DIY GKR Hayu (kanan) || YP-Sulistyawan Ds
“Kerjasama promosi tidak harus dilakukan dengan orang luar. Karena di Sleman saja banyak sekali influencer yang bisa diajak untuk membantu promosi desa wisata. Mereka ini punya 5 juta follower, 10 juta follower itu banyak. Mereka ini bisa dikaryakan dan pengelolanya di training oleh Karang Taruna Sleman,” ujar GKR Hayu.
BACA JUGA: Debat Pamungkas, Surya Paloh: Anies Impresif dan Memiliki Keyakinan Penuh
Ditambahkan Hayu, yang selama ini belum dilakukan (dalam hal promosi pariwisata) adalah menyatukan semua resource (sumber daya-red) pariwisata. Untuk itu, perlu ada pemetaan permasalahan terlebih dulu, sebelum melakukan promosi secara besar-besaran.
Sementara itu, Anggota DPD RI Hafidh Asrom menambahkan, permasalaha promosi desa wisata merupakan pemikiran serius yang sudah muncul sejak lama. Bahkan beberapa tahun lalu pihaknya mengaku pernah mengumpulkan para pengelola desa wisata se DIY di Kraton Yogyakarta guna membahas masalah ini. Setelah terhenti beberapa tahun, Hafidh ingin melanjutkan gagasan ini.
BACA JUGA: Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik Melancarkan Kritik
“Kebetulan saya mendapat tugas untuk membantu GKR Hemas mengurusi Pariwisata Yogyakarta. Maka gagasan itu, mulai tahun ini dapat kita lanjutkan dan realisasikan,” ujar Hafidh.
Hafidh menandaskan, persoalan pariwisata di Yogyakarta yang perlu mendapatkan penyelesaian sangat banyak. Namun persoalan utama adalah keberadaan desa wisata di Yogyakarta ini agar dapat berdampak terhadap kesejahteraan warganya. Bahkan keberadaan Perguruan Tinggi Pariwisata di Yogyakarta ini belum banyak menyerap mahasiswa yang berasal desa-desa wisata di Yogyakarta. Akibatnya, Pariwisata di Yogyakarta tertinggal dari daerah lain.
BACA JUGA: Futsal Piala Perubahan, Sudirman Said: Anak Muda Harus Berkarir, Bukan Melompat
“Padahal para pengelola Pariwisata daerah lain itu awalnya belajar di Yogya. Sepulangnya ke kampung halaman mereka mampu mengembangkan potensi wisata di daerahnya menjadi maju. Tetapi, kita tidak. Sebab, tidak ada kaum muda dari desa wisata disini yang tertarik belajar ilmu Pariwisata. Ini kan ironis,” ujar Hafidh.
Untuk itu, tandas Hafid, saat ini pihaknya sedang mengagendakan untuk melakukan roadshow ke sejumlah Perguruan Tinggi di Yogya agar para pengelola kampus di DIY dapat turut serta memikirkan permasalahan ini. (Sulistyawan Ds)
