Yogyapos.com (TEMANGGUNG) - Optimalisasi potensi desa melalui unit usaha Bumdes termasuk sektor pariwisata bisa membuka peluang peningkatan pemasukan bagi desa yang bersangkutan. Namun, usaha itu harus benar-benar diangkat dari potensi dan narasi yang dimilikinya sehingga masing-masing desa memiliki usaha yang tangguh dan berkarakter.
Demikian benang merah diakusi yang digelar pengurus Bumdes Tirta Wening Makmur Desa Gondosuli, Bulu, Temanggung di kompleks patirtan Simleng, Minggu (25/6/2023) siang.
“Untuk potensi di desa kami dari segi sumberdaya alam yang sekarang sudah kami kelola baru mata air. Kami kelola menjadi wisata air kolam renang Simpleng dan Pamsimas. Ada juga potensi sejarah, berupa situs candi Gondosuli dan situs candi Ngadisari. Saat ini masih kami pelajari sejarahnya, dengan harapan bisa menjadi potensi yang bermanfaat untuk desa kami,” ujar Khusen pengurus Bumdes Gondosuli.
Terkait kolam renang Simleng, lanjutnya, sampai tahun ke empat masih diminati anak-anak dari daerah sekitar. “Rata-rata per hari kami memperoleh pemasukan Rp 1 juta. Kalau hari libur atau akhir pekan bisa Rp 3 juta. Bahkan saat pandemi kami malah bisa memperoleh pemasukan Rp 5-7 juta per hari. Dalam sebulan kami memperoleh Rp 70 juta dipotong operasional Rp 25 juta,” jelasnya.
Dalam pantauan yogyapos.com sejak Minggu pagi sampai siang tempat parkir memang penuh. Banyak diantaranya anak-anak yang diantar kedua orang tuanya. Memiliko tiga kolam dengan pemandangan yang indah berlatar Gunung Sumbing, menjadikan kolam renang Simleng sebagai favorit anak-anak.
Sementara itu dosen STIEPAR API Yogyakarta, Wahjudi Djaja yang menjadi narasumber menjelaskan pentingnya Bumdes Gondosuli mulai membuat bisnis plan terkait pengembangan wisata berbasis sejarah.
Watu wayang di kompleks kolam ranang Simleng || YP-Wahjudi Djaja
“Posisi Gondosuli yang strategis didukung potensi sejarah yang langka, bisa menjadi daya tarik wisata tersendiri. Di situs Gondosuli selain ditemukan reruntuhan candi juga terdapat prasasti yang dibuat tahun 832 M yang menceritakan kejayaan Da Karayn Patapn Ratnamahewara Sida Busu Plar,” tandasnya.
Selain prasasti yang ditulis dengan bahasa Melayu Kuna itu, lanjutnya, tak jauh dari Gondosuli juga terdapat situs Liyangan. Sebuah kompleks peradaban Mataram Kuna yang lengkap karena terdapat pemukiman, peribadatan dan pertanian. “Ini akan menjadi narasi peradaban yang mengundang kehadiran wisatawan,” papar Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama) ini.
Sedangkan tokoh pemuda Gondosuli, Jamal, menjelaskan kekayaan seni tradisi yang dimiliki secara turun-temurun. “Di sisi bawah kolam Simleng terdapat watu wayang.
“Para orang tua pernah bercerita, guratan beraneka model wayang yang terdapat pada permukaan batu itu dibuat dengan menggoreskan kuku. Selain itu, di masyarakat juga terdapat tradisi wulang sunu, jaranan, dan makam aulia,” ungkapnya.
Memiliki lanskap yang indah dengan perkebunan lombok serta berlatar gunung Sumbing dan Sindoro menjadikan kawasan Gondosuli indah dipandang. Kawasan ini menurut arkeolog Goenawan A Sambodo dulunya tempat yang teramat subur dan menjadi pusat peradaban Medang. Desa Gondosuli terdiri atas lima dusun yakni Salakan, Ngadisari, Plebengan, Pulosari, dan Gondosuli. Uniknya, di tiap dusun memiliki sumber mata air yang bisa diberdayakan. (Iud)
