Kajian Ahad Wage Segoroyoso, Leluhur Mataram Teladani Nabi Muhammad SAW

share on:
Ustadz Muh. Yaser Arafat MA di serambi Masjid Quwwatul Iman || YP-Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (BANTUL) - Mengkaji sejarah bukan hanya soal angka tahun. Sejarah bisa dipelajari untuk mempelajari ilmu dan pengetahuannya. Dari para leluhur kita bisa memeluk ajaran agama Islam. Islam bisa masuk dan berkembang di Yogyakarta juga karena peran dan jasa leluhur Mataram.

Demikian Ustadz Muhammad Yaser Arafat MA dalam kajian Ahad Wage di Masjid Quwwatul Iman Segoroyoso II Pleret Bantul,  Sabtu (23/8/2024) malam. Lebih jauh disampaikan, sejak dalam kandungan orang tua telah memasukkan nilai-nilai keislaman.

“Kurang iman apa leluhur Mataram ketika saat membuka wilayah menempatkan masjid sebagai pilar utama. Masjid ini berfungsi sebagai pathok (batas kekuasaan) sehingga dikenal sebagai masjid pathok negara. Sultan Agung membuat hari dalam tujuh, pasaran dalam lima hari. Itu semua tak ada hubungannya dengan demit. Tetapi saat berbicara budaya Jawa orang selalu mengaitkan dengan demit dan klenik,” tandasnya.

Disampaikan dosen UIN Sunan Kalijaga ini, para leluhur Mataram juga meniru Nabi Muhammad SAW. Saat hijrah dari Mekah menuju ke Madinah dengan berjalan kaki. Maka tidak aneh saat malam 1 Sura orang Jawa memiliki tradisi tapa bisu mubeng beteng (red. berjalan dengan berdiam diri mengelilingi benteng Kraton Yogyakarta).

“Jadi dalam membangun peradaban Islam, Sultan Agung menempatkan Nabi sebagai teladan,” kata penulis buku Nisan Hanyakrakusuman ini.

Dalam pengantarnya budayawan Wahjudi Djaja menyampaikan pentingnya masyarakat Segoroyoso belajar sejarah. “Segoroyoso ini memiliki potensi sejarah yang tak dimiliki masyarakat dimana pun. Tak ada yang kebetulan kenapa pendiri Mataram memilih Pleret dan membuat Segoroyoso. Maka mari kita pelajari kembali sejarah Mataram di Pleret dan Segoroyoso,” ungkap Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah UGM (Kasagama) ini.

Sedangkan Dukuh Segoroyoso II Suroso dalam sambutannya mengharapkan agar warganya mau mengaji dan mengkaji sejarah dari para winasis. "Masjid Quwwatul Iman ini merupakan masjid kuna. Peninggalan para leluhur kita. Meskipun sudah mengalami empat kali renovasi dari swadaya warga masyarakat tetapi sampai sekarang masih berfungsi untuk beribadah dan belajar agama".

Acara kajian rutin Ahad Wage diserambi Masjid Quwwatul Iman dipimpin Ketua RT 01 Naj Mudin dihadiri ratusan warga di kawasan Segoroyoso. Setelah kajian dilanjutkan sarasehan sejarah. (Iud)

 

 

 


share on: