Yogyapos.com (SLEMAN) - Sebagai ungkapan rasa syukur atas limpahan anugrah alam berupa air, warga Kampung Balirejo, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (30/10/2022) menggelar kegiatan “Merti Gajah Wong “di bantaran Sungai Gajah Wong. Kegiatan diawali dengan kirab gunungan, serta pemotongan sejumlah tumpeng yang merupakan sumbangan dari warga Balirejo .
Ada 3 tumpeng yang menjulang ke atas, yang kemudian menjadi santapan hidangan bersama setelah keliling kampung dan 1 tumpeng besar akan diarak keliling kampung ini, bermakna warga memohon kepada “Yang di Atas”, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-grebeg-pasar-2019-hadirkan-gunungan-dan-kostum-wayang-1111
Tidak lupa, pada kesempatan tersebut, doa lintas agama juga dipanjatkan sebagai bentuk puji syukur dan terima kasih untuk bumi dan memohon pertolongan Tuhan untuk mengusir semua hal buruk yang merusak kampung. Beragam hal negatif yang merusak keharmonisan hubungan, baik antara sesama warga maupun antara warga dengan lingkungan akan didoakan agar dihindarkan dari kampung Balirejo.
Aktivis Lingkungan Hidup Yogya Berdaya Dodok Putra Bangsa mengungkapkan, kegiatan Merti Gajah Wong ini merupakan kegiatan yang ke dua kalinya. Kegiatan ini dilandasi sebuah kesadaran bahwa selama ini Gajah Wong telah memberikan banyak manfaat baik secara fisik maupun ekonomis. Selain itu, kegiatan ini juga dilaksanakan sebagai salah satu bentuk kepedulian warga terhadap habitat sungai agar senantiasa lestari.
“Merti Gajah Wong ini merupakan sikap warga Balirejo yang selama ini hidup di bantaran Kali Gajah Wong. Melalui kegiatan ini warga ingin menyampaikan pesan kepada semua masyarakat agar kita tidak abai dengan kondisi sungai, karena dengan peduli terhadap sungai, kita juga yang akan merasakan manfaatnya,” ujar Dodok kepada sejumlah wartawan disela-sela kegiatan Merti Gajah Wong.
Selanjutnya Dodok mengatakan, bagi warga Balirejo selama ini Kali Gajah Wong memberikan banyak manfaat. Tidak hanya menyediakan beragam satwa, seperti ikan, udang, dan belut yang dapat dikonsumsi warga, tetapi sungai ini juga menjadi sumber material pasir dan batu untuk bangunan.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-tradisi-kupatan-jalasutra-disambut-ribuan-warga-8170
Warga juga memanfaatkan sebagian lahan di sekitar aliran sungai untuk bertani. Bahkan sungai yang semula dianggap wingit, angker dan kotor sekarang ini sudah disulap menjadi ruang publik yang bersih nyaman dan cantik untuk dikuynjungi wisatawan .
Mengarak gunungan
Oleh karena itu, Merti Gajah Wong tyang ditandai dengan Larung Gunungan kali ini ditujukan tidak sekadar untuk memanjatkan rasa syukur dan doa kepada Tuhan dan alam, tetapi juga menjadi sarana memelihara kerukunan warga sekitar bantaran sungai agar dapat terus bersama-sama menjaga kelestarian Kali Gajahwong.
Selain itu, ritual ini juga diharapkan dapat menjadi undangan bagi warga, baik di hulu maupun hilir Kali Gajahwong lintas wilayah, untuk selalu bersama-sama menjaga aliran sungai ini dari ancaman bencana alam dan pencemaran.
“Doa dan harapan dari Gajahwong ini semoga dapat menjadi energi positif di tengah banyaknya permasalahan dan situasi penuh ketidakpastian. Memelihara solidaritas sebagai sesama warga yang hidup di bumi Yogyakarta yang diwujudkan dalam beragam cara, simbolis maupun praktis, akan menguatkan kesiapan menghadapi kehidupan penuh tantangan ke depan,” tegasnya. (*/Sulistyawan Ds)
