Yogyapos.com (SLEMAN) - Terkait rencana penerbitan prangko Buk Renteng sebagai Penanda Kota, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman mempunyai tugas yang tidak ringan. Tugas yang diemban antara lain menyangkut pelayanan dan pemanfaatan arsip sebagai memori kolektif dan jatidiri bangsa. Sehingga diperlukan kerjasama lintas sektor untuk mengangkat arsip terkait keberadaan Buk Renteng.
Demikian disampaikan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (DPK) Sleman, Dra. Sri Wantini, MPd saat menjadi narasumber Focus Group Discussion (FGD) Menjaring Memori Kolektif Masyarakat tentang Buk Renteng. FGD dilaksanakan di Puri Mataram, Selasa (19/9/2023) sore. Sesuai SK Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kemenkominfo Nomor 87 Tahun 2023 tentang Program Penerbitan Prangko Tahun 2023, Buk Renteng yang berada di Dusun Tangisan Banyurejo Tempel Sleman masuk dalam kategori Penanda Kota.
BACA JUGA: Jokowi Ngaku Pegang Data Inteljen Terkait Parpol, Gus Hilmy: Maksudnya Buat Nakut-nakuti?
Terkait tugas dan fungsi DPK Sleman sebagai Lembaga Kearsipan Daerah, imbuhnya, mempunyai tugas melakukan penelusuran arsip terkait keberadaan Buk Renteng (Selokan Van der Wijck). “Diperlukan kerjasama dan peran serta masyarakat, intansi terkait (kapanewon dan kalurahan) untuk bisa menyelamatkan arsip terkait Buk Renteng,” paparnya.
Peninggalan kolonial Belanda ini telah dikukuhkan Bupati Sleman melalui SK Bupati Nomor 72.4/Kep.KDH/A/2022 tentang Struktur Cagar Budaya Struktur Buk Renteng.
Salah satu sisi Buk Renteng di dusun Tangisan Banyurejo Tempel || YP-Wahjudi Djaja
Menurut dosen STIEPAR API Yogyakarta Wahjudi Djaja SS MPd yang menjadi narasumber pada FGD hari sebelumnya, pengembangan peninggalan sejarah ini perlu memahami konteks historis sosiologis dimana Buk Renteng berada.
BACA JUGA: Dr Syahganda Nainggolan : Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar untuk Perubahan dan Persatuan
“Kanal Van der Wijck dibangun Belanda tak lepas dari kebijakan pintu terbuka yang digelar pemerintah kolonial Belanda melalui Agrarische Wet 1870. Inilah yang mendorong hadirnya investor non pemerintah (swasta) untuk menanamkan modalnya di kawasan Tempel, Minggir, Moyudan, Godean dan sekitarnya. Kawasan itu dulu menjadi sentra perkebunan tebu yang mendukung PG Sendangpitu di Sendangrejo Minggir. Di situlah konteks sejarah dibangunnya kanal Van der Wijck,” tandas Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah UGM (KASAGAMA) ini.
Narasumber lain pegiat Filateli Indonesia, Wing Wahyu Winarno, menyampaikan permasalahan desain prangko agar jangan hanya satu tetapi usahakan merupakan rangkaian yang bisa dipotong. Selain itu, pada sampul hari pertama juga perlu dilengkapi dengan terbitan lain lengkap sejarah, souvenir, ilustrasi tambahan.
“Saat launching usahakan mengundang sekolah untuk memperkenalkan perangko kepada generasi penerus karena bisa mengajarkan anak untuk menyimpan dokomentasi atau berkas berkas,” jelasnya.
Dalam sambutan pengantarnya Kabid Pemasaran Pariwisata Sleman Kus Endarto SE MEc Dev menyampaikan permasalahan ke depan menyangkut Food Energy Water (FEW). “Kita perlu memikirkan konteks ekologi kawasan Buk Renteng agar mampu menopang masalah makanan, energi dan air. Dengan begitu, langkah kita akan berdampak nyata bagi masyarakat,” ungkapnya.
BACA JUGA: Akhmad Syaikhu Instruksikan Seluruh Kadernya Menangkan Anies Baswedan-Muhaimin di Pilpres 2024
Hadir dalam FGD tersebut Sekretaris Dinas Pariwisata Sleman Eka Priastana Putra MSi, Kabid Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Usaha Pariwisata Nyoman Rai Savitri SPsi MEc Dev, Dinas Kebudayaan Sleman, Gatot Nugroho (Barahmus DIY), Ikatan Dimas Diajeng Sleman dan jajaran Dinas Pariwisata Sleman serta stake holder yang berkaitan dengan Buk Renteng. (Iud)
