PEMERINTAH melalui Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) telah menetapkan Arsip Selokan Mataram sebagai memori kolektif bangsa. Arsip tersebut antara lain berujud tekstual, foto, kartografi, audiofisual dan film. Sebagian koleksi arsip tersebut disimpan di Dinas Perpustakaan Arsip Daerah (DPAD) DIY dan dipamerkan ke publik sebagai pembelajaran masyarakat.
Demikian disampaikan Budi Santoso SS MA, Sub Koordinator Jabatan Fungsional Substansi Layanan Arsip DPAD DIY kepada yogyapos.com Rabu (22/6/2022) sore. Pameran Arsip Selokan Mataram digelar di Loby Depo Arsip DPAD DIY Jalan Janti Banguntapan Bantul.
Lebih jauh disampaikan, penghargaan pemerintah yang diberikan bertepatang dengan Hari Kearsipan Tahun 2022 tersebut selain membanggakan bagi jajaran pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta juga menjadi tonggak penting untuk menyadarkan masyarakat tentang jejak sejarah peninggalan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
“Ini memang bukan tugas yang ringan mengingat arsip yang berkaitan dengan Selokan Mataram belum banyak ditemukan. Kami sudah mencoba melacak ke ANRI dan Perpustakaan Nasional di Jakarta tetapi hasilnya sangat terbatas. Dari hasil pelacakan itu, sebagian kami reproduksi dan pamerkan. Upaya yang mungkin kami lakukan adalah mencari para pelaku sejarah pembuatan Selokan Mataram dan mewawancarainya,” tandasnya.
Dari penelusuran yogyapos.com terhadap arsip Selokan Mataram yang dipamerkan antara lain berupa ketikan menggunakan ejaan lama dan tahun Jepang tentang susunan acara peresmian. Tertulis sebagai judul, Atjara pemboekaan resmi jajasan pengairan Gunsei Yo-Haisuiro. Tempat pelaksanaan peresmian berada di Karangtaloen-Ku, Ngloewar Son, Salam Gun, Magelang Ken, Kedoe Syu pada 2605-7-5 atau 5 Juli 1945.
Di dalam susunan acara yang dimulai pukul 10.00 sampai 15.00 tersebut hadir " tamoe agoeng" yang terdiri atas para pejabat militer Jepang, penguasa Yogyakarta dan tokoh masyarakat. Pejabat kemiliteran Jepang yang memberi sambutan adalah dari Gunseikan Kakka, Izhikawa Koti Zimu Kyoku Tyokan Kakka, dan Yamauchi Gunscisibu Tyokan Kakka. Dari Yogyakarta sambutan disampaikan oleh S. P. Kg. Jogjakarta Ko (Sri Sultan Hamengku Buwono IX?) dan penutupan upacara oleh S. P. Pakoe Alam. Sedangkan mewakili rakyat sambutan disampaikan oleh K. H. Dewantara.
Yang menarik dari susunan acara itu adalah penggunaan nama selokan yakni Gunsei Yo-Haisuiro. Hal ini berbeda dari nama yang sering dilekatkan pada Selokan Mataram sebagai Kanal Yoshiro. Fakta ini tentu memerlukan penelusuran lebih lanjut untuk memberi kepastian atas sebutan yang benar tentang Selokan Mataram.
Peresmian Selokan Mataram ditandai dengan membuka pintu air di tepi Kali Progo. Setelah air mengalir para pembesar menaburkan bunga lalu memeriksa bendungan Karang Talun untuk mengikuti selamatan bersama para pekerja yang mengelilingi hajatan. Acara diakhiri dengan doa untuk kemenangan akhir diikuti dengan beragam hiburan. Tamu agung dan para pembesar meninggalkan acara untuk kemudian pulang melalui Tempel, Balangan, Kali Bedog (memeriksa talang dan bendungan), lalu menuju Demakijo dan kembali Yogyakarta.
Serangkaian fakta sejarah masih bertebaran bagaikan puzle. Dinas Kebudayaan perlu bersinergi dengan DPAD, dan institusi terkait untuk melacak jejak yang masih terserak dan dirajut menjadi kisah sejarah yang memuat narasi sejarah keistimewaan. (Wahjudi Djaja)
