Insan BPC Yogyakarta Budayakan Basis Pesantren

share on:
Santri alumni Buntet Pesantren Cirebon (BPC) yang tergabung dalam Insan BPC Yogyakarta saat kegiatan khataman dan doa bersama

Yogyapos.com (SLEMAN) - Santri alumni Buntet Pesantren Cirebon (BPC), Jawa Barat menanamkan dan mengembangkan basis budaya pesantren di mana saja tempat mereka tinggal atau menetap. Sekira 300-an santri alumni BPC yang tergabung dalam Insan BPC Yogyakarta membudayakan basis pesantren direalisasikan di Yogyakarta. Budaya pesantren tersebut, diantaranya sowan (silaturahmi) kepada kiai, ulama, alumni, senior, dan masyarakat umum serta tahlilan dan ziarah.

Alumnus BPC Muhammad Syafi’iyang juga ketua periode 2022-2023 demisioner, mengungkapkan hal itu di sela-sela kegiatan Musyawarah Besar Insan BPC Yogyakarta, Minggu (25/6/2023) di homestay Omah Lurah Lawasan Tegal Balong Umbulmartani, Ngemplak, Sleman.

Ia menyebutkan ada sembilan organisasi santri alumni BPC seperti Insan BPC Yogyakarta yang tersebar di delapan kota, antara lain Forsila BPC Jakarta, Istishab BPC Bandung, AMBK BPC Karawang, KMC BPC Cirebon, Sarung BPC Salatiga, Kesan BPC Purwokerto, Formasi BPC Semarang, dan Akmal BPC Malang. Masing-masing organisasi tersebut bersifat independen dengan keanggotaan tidak terikat khusus alumni BPC.

“Tujuan kami mengadakan musyawarah antara lain merekonstruksi kepengurusan, regenerasi, mengevaluasi AD/ART organisasi, dan pergantian pengurus harian,” ucapnya.

Ditambahkan Syafi’i, Insan BPC Yogyakarta didirikan pada22 Oktober 2002. Jumlah anggota Insan BPC Yogyakarta mencapai 300 orang, terdiri santri alumni BPC dan warga Cirebon perantau yang menetap di Yogyakarta serta melanjutkan Pendidikan di perguruan tinggi, seperti kuliah di UIN Suka Yogyakarta, UNY, UII, UAD, Universitas Amikom, Universitas Jenderal A Yani, UPY, dan Sekolah Tinggi Ilmu Pariwisata Ambarrukmo.

Ketua Alumni BPC || YP-Ist

Diakuinya, melalui budaya membuka dan mudah beradaptasi dengan kultur lain. Namun, kecenderungan organisasi bisa mengalami krisis SDM dan terancam mengalami kemacetan dalam kaderisasi. Pasalnya, anak zaman sekarang lebih suka yang berbau hiburan untuk mengevaluasi LPJ.

Akhirnya pihaknya memilih musyawarah organisasi dilaksanakan di luar sekretariat, seperti di homestay Omah Lawas Balong tersebut. Karenanya, kepada pengurus yang terpilih, ia merekomendasikan program kerja yang lebih adaptasi keadaan alumni tapi serius dia balut diskusi dengan esnsi dan asas pembinaan intelektual.

“Kita menemukan formula bahwa untuk membicarakan organisasi tak harus dengan forum formal melainkan juga dengan ngopi santai. Dari situ tercetus ide pengembangan organisasi. Di samping itu kita juga bangun kegiatan bakti sosial, turnamen futsal, talk show terkait isuke kerasan seks di dunia pesantren guna meluruskan bahwa tidak semua pesantren terjadi kasus itu. Kegiatan lain,teater kolaborasi dengan Teater Trisula UST “Canvas Terakhir”, stand up comedy, tari tradisi, dan musik,” cetusnya.

Ketua terpilih (periode 2023-2024) Muhammad Fajarudin Islam (22) mengakui adanya tantangan untuk merangkul teman-teman santri alumni pesantren supaya tetap solid, mempunyai hubungan emosional yang bagus. Karenanya, pihaknya berupaya melanjutkan kepemimpinan Syafi’i merangkul teman-temannya untuk tetap pada koridor sebagai alumni pesantren dan organisasi yang menjaga nama baik almamater, tradisi kesilaman di Yogyakarta yang secara kultural sudah plural.

“Kesulitan kami antara lain, teman-teman punya kesibukan masing-masing yang kita tak bisa paksakan mereka karena juga pentin gbagi mereka. Jadi, menjalin silaturahmi penting tapi juga menjalankan amanah orang tua juga penting. Kita punya kegiatan sendiri-sendiri. Tempat tinggal juga menyebar meski ada sekretariat untuk tempat ngumpul. Tak bisa tiap hari interaksi fisik. Untuk mengantisiasinya dengan komunikasi medsos. Tetap membangun hubungan emosional,” tukasnya. (R Toto Sugiharto)

 

 


share on: