Healing di Masjid Wotgaleh dan Makam Pangeran Purbaya

share on:
Gapura Makam Wotgaleh di Dusun Mereden, Sendangtirto, Berbah, Sleman || YP-Yuliantoro

LANTUNAN dzikir, tahlil, tasbih, dan tahmid lirih terdengar saling sahut menyahut. Orang-orang tampak khusuk, duduk bersila menghadap nisan berbalut kain mori. Aroma minyak zakfaron bercampur pandan, mawar, kanthil, dan melati pun memenuhi ruang makam berukuran enam kali sepuluh meter persegi, di Makam Wotgaleh, Berbah, Sleman.

Asri dan damai. Itulah Makam Wotgaleh. jauh dari kesan wingit dan angker yang biasanya terasa bila mengunjungi pemakaman. Padahal Wotgaleh adalah komplek  pemakaman yang sudah berumur ratusan tahun, tempat bersemayam Pangeran Purbaya beserta keluarganya. 

Mbah Surakso Slamet

Makam Pangeran Purbaya tersebut terletak dekat dengan  kawasan militer TNI Angkatan Udara, di Dusun Mereden, Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Sleman, Yogyakarta. Di makam tersebut juga bersemayam Ratu Giring, Ki Wirasaba, serta para istri Pangeran Purbaya I dan II.

Di pemakaman yang merupakan area cagar budaya ini  juga berdiri masjid pathok negoro, Masjid Sulthoni Wotgaleh. Masjid Sulthoni Wotgaleh sebagaimana tertulis di bangunan tersebut, dibangun pada abad ke-17 dan telah beberapa kali direnovasi, antara lain pada 1979, 2010, 2012, dan 2015. Arsitekturnya mirip Masjid Agung Demak. Di sekitar Masjid Sulthoni Wotgaleh juga terdapat makam keluarga Sultan Hamengkubuwono II dan IV.

“Wotgaleh itu berasal dari kata wot ing penggalih, yang maknanya adalah jembatan hati menuju ketenteraman,” cerita Mbah Surakso Slamet, salah seorang juru kunci makam, Sabtu (3/12/2022).

Pangeran Purbaya adalah putra Panembahan Senopati (pendiri Kerajaan Mataram Islam) dengan Rara Lembayung (Ratu Giring), putri dari Ki Ageng Giring. Nama kecilnya adalah  Raden Damar atau dikenal juga sebagai Joko Umbaran. Pangeran Purbaya dijuluki sebagai Banteng Mataram karena kiprahnya sebagai panglima perang yang pemberani saat perang melawan VOC di Batavia pada tahun 1628-1629M. Pangeran Purbaya meninggal saat mempertahankan Keraton Plered dari serangan Karaeng Galesong dan Trunojoyo, yang memberontak pada tahun 1677 M. 

“Konon Pangeran Purbaya itu sakti mandraguna, kebal terhadap senjata apa pun dan hanya dapat dilukai ketika terkena kotoran yang bersifat najis. Ada pula yang mengatakan  bahwa Pangeran Purbaya itu waliyullah karena menjaga wudhu serta menghidari dari segala sesuatu yang najis,” tutur Mbah Surakso Slamet selanjutnya.

Nenepi

Di area masjid dan pemakaman ini berkembang mitos bahwa langit di atas kawasan ini tidak boleh dilintasi pesawat. Seperti diketahui bersama, kompleks pemakaman  ini berada di sebelah selatan Bandara Adisucipto Yogyakarta. Insiden pesawat jatuh di sekitaran area ini sudah terjadi beberapa kali.

“Tak hanya pesawat, burung yang melintaspun kadang tiba-tiba jatuh,” papar Mbah Surakso Slamet. 

Hingga kini makam yang terkenal dengan kesakralannya itu selalu didatangi pengunjung. Beberapa diantara mereka ada yang sekedar  numpang sholat, ada yang beristirahat, bahkan ada pula yang menginap di sana. Mereka yang yang menginap biasanya sedang menenangkan diri,  menepi, mendekat kepada Sang Maha Kuasa. 

“Setiap hari masjid dan makam ini selalu ramai peziarah. Apalagi bila bertepatan dengan  peringatan kelahiran dan kematian Pangeran Purbaya atau  malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon. Kami harap para peziarah selalu mentaati peraturan yang ada serta beretika dan berikad baik,” Mbah Surakso Slamet menutup perbincangan. (Yuliantoro)

 


share on: