Yogyapos.com (SLEMAN) - Dosen Program Studi Sistem Informasi Fakultas Teknologi Industri (FTI) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) Julius Galih Prima Negara SKom SAP MKom berkolaborasi dengan Prof Dr Hadi Sasana SE MSi dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, berhasil menerima pendanaan pada Program Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat 2024.
BACA JUGA: JCW Tagih Janji Polresta Sleman Tuntaskan Kasus Dugaan Pungli Oknum Lapas Cebongan
Program Penelitian dan Pengabdian tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) dan rancangan program yang disusun oleh tim bertajuk ‘Pengembangan Sistem Informasi Ketahanan Pangan Terpadu (SIPADU) guna Mendukung Akselerasi Daya Saing Daerah’.
Menurut Galih, penelitian ini menyoroti masalah pemantauan ketersediaan bahan pangan produksi lokal di Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang kerap mengalami surplus, namun ironisnya beberapa kali terjadi kelangkaan karena permintaan tinggi dari masyarakat setempat serta pada akhirnya mempengaruhi stabilitas harga pangan.
BACA JUGA: 113 Peserta Ikuti UPA, Dr Ariyanto: Semoga Lulus, Jadi Advokat Profesional Penegak Keadilan
“Salah satu keresahan pemerintah daerah adalah bahan-bahan pangan hasil produksi lokal ini kemudian lari menuju kabupaten lain penyokong Gunungkidul, dan luput dari pemantauan,” katanya melalui siaran pers yang diterima yogyapos.com, Rabu (3/7/2024).
Berangkat dari masalah tersebut, riset terapan yang mereka kembangkan kemudian menghasilkan output utama yang disebut SIPADU. Fungsi utama dari SIPADU sendiri untuk menghitung kuantitas produksi bahan pangan lokal, memprediksi pasokan bahan pangan pada saat musim panen dan monitoring pergerakan bahan pangan dari satu daerah ke daerah lain yang melibatkan Dinas Pertanian juga Kelompok Tani di masing-masing Kalurahan.
BACA JUGA: Program 'Bunga Desa' Digulirkan Bupati Banyuwangi, Ini Penjelasannya
Galih menjelaskan masa persiapan yang dihadapi oleh timnya memakan waktu selama setahun penuh. Persiapan ini mulai dari perencanaan topik, penyusunan proposal, pengunggahan proposal, hingga pemantauan proses penilaian. Selama masa tersebut, mereka mendapatkan dukungan penuh dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta khususnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM UAJY).
“Sebagai akademisi, kita wajib menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu: penelitian, pengabdian, dan pengajaran. Dalam menjalankan tugas utama tersebut, kita dapat menjalankan kolaborasi lintas sektor dan bidang ilmu salah satunya penelitian. Kita dapat secara aktif menggaet hibah pendanaan internal maupun eksternal untuk merespon tantangan yang ada di sekitar kita. Terciptanya SIPADU menjadi bentuk respon dari para akademisi dan sarana bagi pemerintah untuk menjawab tantangan global seperti ketahanan pangan di Indonesia, tegas Galih. (*)
