Grebeg Ingkungan Disambut Meriah Warga Dusun Pagergunung

share on:
Grebeg Ingkungan warga Pagergunung || YP-Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (BANTUL) – Menyambut Hari Jadi Bantul ke-192, warga Padukuhan Pagergunung 1 dan Pagergunung 2 mengadakan upacara adat Grebeg Ingkungan, Rabu (19/7/2023).

Upacara adat sekaligus ziarah dan umbul donga bagi almarhum Bupati Bantul I, diawali dengan kirab Gunungan Ingkung dan jodhang yang dipimpin oleh Bupati Bantul, H Abdul Halim Muslih SH.

Sambil menunggang kuda, didampingi oleh Lurah Sitimulyo, H Juweni SE, Bupati Bantul memimpin kirab dari halaman kantor kalurahan menuju makam KRT Mangunegoro yang berada di padukuhan Pagergunung 1. Di sepanjang jalan yang dilalui, masyarakat mengelu-elukan kirab yang sudah lama tidak diadakan.

Sejarah terbentuknya Kabupaten Bantul berawal dari perjuangan Pangeran Diponegoro melawan Belanda tahun 1825 hingga 1830. Saat itu Pangeran Diponegoro bermarkas di Selarong. Seusai meredam perjuangan Diponegoro, Pemeritah Belanda membentuk komisi khusus untuk menangani daerah Vortenlanden yang antara lain bertugas menangani pemerintahan daerah Mataram, Pajang, Sokawati, dan Gunung Kidul. 

Ziarah ke makam Bupati I Bantul || YP-Wahjudi Djaja

Pada 26 dan 31 Maret 1831 Pemerintah Belanda dan Sultan Yogyakarta mengadakan kontrak kerja sama tentang pembagian wilayah administratif baru dalam Kasultanan disertai penetapan jabatan kepala wilayahnya. Kasultanan Yogyakarta saat itu dibagi menjadi tiga kabupaten yaitu Bantulkarang untuk kawasan selatan, Denggung untuk kawasan utara, dan Kalasan untuk kawasan timur.

Menindaklanjuti pembagian wilayah baru Kasultanan Yogyakarta, tanggal 20 Juli 1831 secara resmi ditetapkan pembentukan Kabupaten Bantul yang sebelumnya dikenal dengan Bantulkarang. Nayaka Kasultanan Yogyakarata, Raden Tumenggung Mangun Negoro, dipercaya Sri Sultan Hamengkubuwono V untuk memangku jabatan sebagai Bupati Bantul. KRT Mangunegoro menjabat sampai tahun 1945 dan ketika wafat dimakamkan di Sasanalaya Sentono, Pagergunung, Sitimulyo, Piyungan, Bantul.

Lurah Sitimulyo H Juweni SE., mengatakan upacara adat Grebeg Ingkungan ini sudah diadakan secara turun-temurun. “Dulu ingkungnya hanya sedikit, gunungannya lebih banyak diisi hasil bumi terutama pala kapendem seperti uwi, gembili dan sebagainya. Kami berharap, upacara adat ini bisa menjadi agenda rutin pemerintah Kabupaten Bantul,” tuturnya.

Dalam sambutannya Bupati Bantul mengapresiasi pelestarian upacara adat Grebeg Ingkungan sebagai wujud syukur masyarakat sekaligus penghargaan kepada KRT Mangunegoro, Bupati Bantul I, yang telah memulai menata pemerintahan dan masyarakat Bantul.

“Tentu itu bukan pekerjaan yang mudah. Kami mengajak masyarakat agar selalu menjaga persatuan, apalagi di tahun politik. Perbedaan dalam hal apapun harus disyukuri sebagai kebhinekaan. Jangan sampai memecah belah persatuan masyarakat, khususnya di Kalurahan Sitimulyo,” pungkasnya. (Iud)

 

 

 

 


share on: