Yogyapos.com (YOGYA) – Bulan puasa ramadan memiliki banyak sebutan seperti syahrul ibadah, syahrul barakah dan lainnya yang memiliki makna sangat positif. Semoga makna positif tersebut kita dapat mengambil manfaatnya terutama ampunanNya, sehingga kita diampuni dosanya.
Hal ini disampaikan oleh Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof Dr H Edy Suandi Hamid MEc, dalam Kultum Tarawih di Masjid Syuhada Yogyakarta, Sabtu (15/4/2023).
“Yang menjadi spirit kita berpuasa adalah memahami merasakan derita kaum miskin, kaum dhuafa sehingga kita tersadarkan untuk memberikan hak-hak orang miskin yang ada pada kita,” tambahnya.
Pada bulan puasa merupakan momen menyalurkan infak zakat sodaqoh kita sehingga kaum miskin terhindar dari kefakiran, padahal kefakiran mendekatkan dengan kekufuran.
“Hal ini seperti disampaikan Rasulullah SAW dalam hadits: “Hampir-hampir saja kefakiran akan menjadi kekufuran dan hampir saja hasad mendahului takdir,” tegasnya.
Lebih lanjut, mantan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) ini mengungkapkan bahwa Di Indonesia jumlah kaum miskin sangat besar, lebih dari 28 juta orang, kira-kira enam kali lipat dibandingkan penduduk Kota Yogyakarta.
“Penting bagi kita meningkatkan kesalehan sosial kita sehingga dapat mengurangi kemiskinan, dan kitayang diberi kemampuan berkewajiban membantu kaum miskin tadi,” ujarnya.
Banyak hak-hak orang miskin yang diambil oleh orang-orang yang tidak berhak. “Kita sebagai orang Islam prihatin karena di bulan ini kita beribadah tetapi seorang kepala daerah tertangkap tangan KPK padahal ia adalah muslim, dan kasus korupsi juga terjadi di bulan Ramadan,” tambahnya.
“Jika dilihat dari nilai-nilai Islam, korupsi sangat dilarang, sesuai Surat An Nisa 29, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu,” ujarnya.
Hadits juga menyebut tentang larangan suap menyuap. Rasulullah SAW bersabda yang artinya Allah melaknat penyuap dan yang disuap dalam urusan hukum.
Lebih lanjut, Prof Edy menyampaikan bahwa values hanya sekedar pengetahuan dan belum diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Jika dilihat pada pandemi yang lalu, orang miskin di Indonesia lebih dari 10 persen dari jumlah penduduk, tetapi pertumbuhan aset konglomerat di masa pandemi juga meningkat 11 persen, jauh diatas pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Hal ini menunjukkan bahwa ada kebijakan yang salah, kebijakan berpihak pada yang mampu, maka kita harus cerdas bagaimana memilih pemimpin, yang berpihak pada kaum dhuafa dan fakir, dan yang tidak korupsi,” tandasnya.
“Yang dapat mengubah nasib kita adalah kita sendiri, sepertifirman Allah SWT dalam Surat Ar-Ra'd ayat 11 yang artinya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali mereka sendiri yang mengubahnya,” pungkasnya. (Bhenu)
