Yogyapos.com (SLEMAN) - Muhammad Nursam adalah seorang kawan yang hangat bersahabat, aktivis perjuangan yang bernyali dan tokoh penerbitan yang bertangan dingin.
Melalui Penerbit Ombak, Nursam telah sangat membantu mencerdaskan kehidupan bangsa melalui buku-buku alternatif bagi kalangan akademis dan Pustaka Bergerak untuk masyarakat. Universitas Gadjah Mada sangat berduka dan merasa kehilangan.
Demikian sambutan Wakil Rektor UGM Dr Arie Sudjito SSos MSi saat melepas jenazah Muhammad Nursam di rumah duka Perum Nogotirto III Gamping Sleman DIY, Minggu (7/5/2023) siang.
Hadir melepas kepergian sejarawan muda ini antara lain Kepala Kepala Departemen Sejarah FIB UGM Dr Abdul Wahid, Kaprodi S1 Sejarah Dr. Mutiah Amini, para dosen, aktivis, penulis dan kolega serta penerbit anggota IKAPI Yogyakarta.
Sementara itu Ketua Umum Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (KASAGAMA) Wahjudi Djaja merasa kehilangan partner kerja budaya yang berdaya jelajah. “Nursam adalah Ketua Umum KASAGAMA saat didirikan. Jaringan kerjanya amat luas dan produktif. Masih relatif muda tetapi persentuhan intelektualnya sudah sangat mendalam. Kejelian dan keberaniannya mengambil jalan hidup seolah identik dengan kepiawaiannya mengelola Penerbit Ombak. Pekerja keras, total tetapi selalu membuka ruang bagi teman apalagi yuniornya untuk berkembang,” tandasnya.
Muhammad Nursam lahir di Tolo, Jeneponto Sulawesi Selatan tahun 1975. Alumni Jurusan Sejarah FIB yang dikenal sebagai aktivis pergerakan, kolomnis, penulis buku dan praktisi penerbitan. Meninggalkan seorang istri Dewi Puspitasari dan dua orang anak Haura Sahda Salsabila serta Muhammad Rafif Arkana. Meninggal 7 Mei 2023 pukul 04.40 WIB dan dimakamkan di TPU Seyegan Sleman setelah sebelumnya disalatkan di Masjid Nogotirto pukul 11.00 WIB.
Buku-buku karya Nursam menjadi rujukan kalangan perguruan tinggi terutama sejarah dan ilmu humaniora. Beberapa diantaranya adalah Membuka Pintu Bagi Masa Depan (Biografi Sartono Kartodirdjo), Potret Cendekiawan Jawa, Pergumulan Seorang Intelektual (Biografi Soedjatmiko), Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi (Biografi Laksamana Muda John Lie), Surat-surat Pribadi Soedjatmoko Kepada Presiden (Jenderal) Soeharto, Sejarah Yang Memihak (Mengenang Sartono Kartodirdjo).
Masih banyak buku yang dia tulis atau terbitkan sebagai bahan pembelajaran perguruan tinggi, referensi, maupun kenangan. Buku-buku Ombak seolah bergerak mengisi ruang-ruang akademis di berbagai pulau dalam beragam tema menjadi jariyah tak berkesudahan. (Iud)
