Dialog Seni Rupa Milenial Menyongsong Haul ke-99 Saptohoedojo Melibatkan Siswa Bikin Sketsa

share on:
Yani Saptohoedojo memberikan sambutan dialog Seni Rupa Milenial, Jumat (2/2/2024) malam

Yogyapos.com (SLEMAN) - ”Almarhum Papi Saptohoedojo belajar seni sejak anak-anak, tekadnya sangat kuat untuk berkarya. Tidak ada yang terlintas selain seni dan berkarya,” demikian Yani Saptohoedojo mengisahkan almarhum Saptohoedojo dalam Dialog Seni Rupa Milenial di depan anak-anak muda di galerinya, Jalan Adisucipto Km 9, Sleman, Jumat (2/2/2024).

BACA JUGA: UII Yogyakarta Desak Presiden Jadi Teladan dalam Etika dan Praktik Kenegarawanan

Puluhan anak-anak muda dari SMKN 3 Kasihan (dulu Sekolah Menengah Seni Rupa, SMSR) menorehkan pensil dan kuas. Mereka membuat sketsa wajah istri perupa Saptohoedojo, Bunda Yani. Sembari melukis, mereka menyimak paparan Yani yang menceritakan perjuangan suaminya di bidang seni terutama lukis.

Yani mengungkapkan sepenggal kisah Saptohoedojo yang semula ikut mengangkat senjata pada masa penjahahan. Namun, ada seorang teman yang mengingatkan, ia harus mengembangkan jiwa seninya.

BACA JUGA: Pangdam IV/Diponegoro Gelar Coffee Morning Bersama Pimred Media Massa Jateng-DIY

Saptohoedojo lantas melanglang buana ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri. Ia mengembangkan bakat sekaligus belajar melukis dari seniman-seniman Belanda.

Para siswa SMKN 3 Kasihan Bantul peserta dialog || YP-Yuliantoro

Pada kesempatan itu Yani Saptohoedojo tengah menggelar jumpa pers dan Dialog Spirit Perjuangan Saptohoedojo dalam karya lukis/karya seni. Dialog Seni Rupa Kaum Milenial dalam rangkaian Haul ke-99 Dr HC RM Saptohoedojo yang akan digelar Selasa (6/2/24) mendatang di Makam Seniman Giri Sapto Imogiri Bantul Yogyakarta.

BACA JUGA: Hj Widja Ani Setyawati, Caleg DPRD DIY Konsen Majukan Pendidikan Anak dan Pembinaan UMKM

Ketua Panitia Hary Sutrasno menjelaskan acara kali ini bertema “Seni Budaya yang Menyatukan”. Selain dialog, kegiatan lainnya yakni ziarah ke Makam Seniman Giri Sapto bersama para seniman-budayawan. Pada dialog, anak-anak muda berdiskusi tentang spirit sejarah panjang perjuangan Saptohoedojo mengangkat seni lukis dan seni lainnya sampai ke tingkat dunia serta diskusi tentang romantika mengelola sebuah museum senirupa.

Selama kegiatan berlangsung, sebanyak 20 peserta dialog melukis dalam bentuk sketsa dengan objek Bunda Yani dan berbagai hal sekitar koleksi museum.

BACA JUGA: Lurah Kasidi Jalani Sidang Perdana, Muslim Murjiyanto SH: Kami akan Ajukan Eksepsi

“Semoga terbangun jembatan hubungan batin yang kuat dan menyatukan antara senior seni rupa yang sudah mendunia, Saptohoedojo dengan para yuniornya, yaitu para peserta diskusi yang rata-rata berusia belasan tahun,” tutur Hary.

Narasumber lain Rahmat, seorang praktisi sekaligus pengamat senirupa dan mantan kepala Sekolah Menengah Senirupa (SMSR) Yogyakarta menyampaikan begitu banyak jasa dari seniman terutama almarhum Saptohoedojo dengan kegigihannya dan perjuangannya dan sampai saat ini hasil karyanya masih ada.

Menueutnya, seorang seniman harus mampu dan bisa melihat suatu barang yang tidak ada nilainya setelah di sentuh oleh tangan tangan seniman bisa menjadi bernilai tinggi, dan untuk siswa siswi SMSR harus tetap semangat berkarya dan berkarya, meski mungkin saat ini hasilnya belum maksimal, namun suatu saat nanti pasti akan bisa mendapatkan hasil yang maksimal, ungkapnya.

Sementara Pungky, pengelola museum senirupa H Widayat mengisahkan perjuangan museum peninggalan dari ayahnya setiap seniman selalu miliki ciri khas masing masing, dan setiap dari generasi ke generasi selanjutnya pasti ada jurang pemisah, karena setiap generasi memiliki ciri dan khas masing masing.

BACA JUGA: Ajakan 'Rujuk' Ditolak, Residivis Aniaya Mantan Kekasih dengan Palu

Baginya, terpenting untuk para seniman yang saat ini hadir selalu berlatih dan belajar terus. Setiap dari hasil karya jangan lupa selalu di kasih tanda tangan, karena itu merupakan salah satu bukti bahwa itu hasil karyanya. ”Saya yakin suatu saat nanti hasil karya kalian akan terkenal dan mendunia,” pesannya.

Dari kegiatan ini diharapkan terbangun jembatan hubungan bathin yang kuat dan menyatukan antara senior senirupa yang sudah mendunia, Saptohoedojo dengan para yuniornya, yaitu para peserta diskusi yang rata-rata berusia belasan tahun, sehingga terjadi keberlanjutan atas kiprah senirupa Indonesia atau Yogyakarta khususnya ke tingkat senirupa dunia. (Yuliantoro)

 


share on: