Yogyapos.com (SLEMAN) - Kepedulian terhadap anak-anak tidak dilakukan hanya dengan sekedar memberikan wadah bagi anak-anak untuk berkompetisi. Perlu juga diupayakan untuk membangkitkan kembali keberadaan dolanan anak yang sudah kini semakin memudar. Harapannya, anak-anak yang saat ini lebih senang bermain dengan gadgetnya akan kembali mengakrabi beragam permainan tradisional untuk membentuk karakter mereka.
Demikian disampaikan Ketua Desa Wisata Karang Trimulyo Sleman (KATRIS), Bambang Suryo Suseno, kepada yogyapos.com Senin (11/7/2022) menanggapi digelarnya "Sunmor Katris" pada Minggu 17 Juli 2022. Selain mengangkat dolanan anak, lanjut Bambang, sunmor juga dimeriahkan dengan pasar UMKM yang menjual beragam potensi Dusun Karang.
Terkait ragam dolanan anak yang kembali diangkat, Bambang menyebut Egrang, Lompat Karet, Balap Bathok, Benthik, Dhakon, Telephone Kaleng dan Gobak Sodhor. “Kami telah membuktikan, ternyata anak yang terbiasa bermain gadget pun sangat bersemangat mengikuti aneka ragam permainan tradisional ini,” tandasnya.
Sunmor Katris yang digelar pada Minggu 17 Juli 2022 yang dimulai pukul 06.00 sampai 11.00 WIB tersebut mengambil momentum Hari Anak Nasional. Kegiatannya meliputi senam massal, bazar UMKM, lomba mewarnai siswa TK sampai Kelas 2 SD, lomba menggambar siswa Kelas 3-6 SD, dolanan anak, menunggang kuda, dan hiburan musik serta doorprize menarik.
“Untuk kegiatan lomba anak-anak, akan disediakan piala dan uang pembinaan. Beaya pendaftarannya cukup Rp 5.000. Peserta diharapkan membawa meja lipat dan pewarna sendiri,” jelasnya.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-mahasiswa-uin-salatiga-ikuti-ppl-di-tiga-desa-wisata-sleman-7709
Sementara itu Wahjudi Djaja dari Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) selaku pendamping menyambut positif tema yang diangkat dalam Sunmor Katris. “Keberanian dan kejelian pengelola desa wisata Katris perlu diapresiasi. Ini keluar dari budaya latah yang sering dilakukan desa wisata lain yang kurang mempertimbangkan keunikan dan karakter. Padahal keduanya akan menjadi bekal utama pengembangan desa wisata ke depannya agar tidak mudah tumbang. Deswita Katris diharapkan menjadi desa wisata ramah anak,” tandasnya.
Sedangkan Diah, salah satu pengelola, kepada yogyapos.com menyampaikan bahwa Sunmor Katris sebetulnya sudah diadakan sejak akhir tahun 2021. “Karena pandemi yang naik turun, turut mempengaruhi pelaksanaan sunmor. Jujur kami gregetan. Maka setelah pandemi semakin landai, kami bersemangat kembali untuk mewujudkan impian lama menjadi desa wisata yang diperhitungkan karena memiliki peran penting bagi kebangkitan masyarakat,” tandasnya. (*)
