Desa Tanggan Gesi Sragen Studi Banding ke Embung Senja

share on:
Pokdarwis Desa Tanggan Kecamatan Gesi Kabupaten Sragen Jawa Tengah di Embung Senja yang dikelola Bumdes Tirtamas Kalurahan Tirtoadi Kapanewon Mlati Sleman, Sabtu (13/11/2021). 

Yogyapos.com (SLEMAN) - Optimalisasi potensi desa bisa dijadikan langkah awal untuk menggerakkan roda pembangunan di level terbawah. Melalui beragam program pemberdayaan seperti melalui Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) potensi alam, seni, budaya, sejarah, kerajinan dan kuliner bisa membuka lapangan kerja yang diharapkan mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.

Demikian benang merah diskusi dalam rangka studi banding yang dilakukan jajaran kelembagaan Desa Tanggan Kecamatan Gesi Kabupaten Sragen Jawa Tengah di Embung Senja yang dikelola Bumdes Tirtamas Kalurahan Tirtoadi Kapanewon Mlati Sleman, Sabtu (13/11/2021). 

Dalam sambutannya Kepala Desa Tanggan Mulyanto, Spd menyampaikan perlunya menggali inspirasi dan strategi pemberdayaan dari daerah lain agar bisa dijadikan model pembangunan di daerahnya.

"Kami sengaja datang di kawasan wisata Embung Senja bersama para ketua RT dan tokoh masyarakat Tanggan untuk menyerap pengalaman dalam pemberdayaan potensi desa. Potensi yang kami miliki tidak kalah dibandingkan dengan Tirtoadi. Oleh karena itu, kami berharap sekembalinya dari Embung Senja bisa segera melangkah untuk memberdayakan dan mengelola potensi yang ada,” tandasnya.

Sementara itu Ketua Pelestari Budaya Desa Tanggan Mulyono, SS menyampaikan bahwa potensi yang dimiliki Desa Tanggan meliputi alam, seni, budaya, religi dan kerajinan perlu segera ditangani agar bisa memberikan masukan bagi desa dan masyarakat. 

Menanggapi hal tersebut Direktur Bumdes Tirtamas Wahjudi Djaja, SS, MPd menyampaikan perlunya segera dibentuk kelembagaan yang dipercaya untuk mengelola potensi desa.

“Selain dibutuhkan tim yang berdedikasi dan tangguh, penting juga adanya kesamaan visi dan komitmen diantara pemerintah desa, Bumdes, Pokdarwis dan masyarakat. Membangun desa wisata butuh ketekunan dan kesabaran karena banyak kendala yang harus dihadapi,” jelasnya. 

Setelah diskusi dilanjutkan dengan ramah tamah, salat bersama, mengunjungi taman dan berfoto bersama. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan ziarah ke makam Sunan Pandanaran di Bayat, Klaten.  (Iud) 

 


share on: