Dari Upacara Kebo Ketan VII, Saat Energi Kembali Selepas Badai

share on:
Reog Mahesa Nempuh Kraton Ngiyom

HUJAN badai, Sabtu sore (8/10/2022) menghantam Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi secara kasat mata telah memporak porandakan panggung megah artistik dan beragam venue yang berdiri di Lapangan Sekaralas. Sejenak sempat membuat shock panitia Upacara Kebo Ketan VII, menggelar prosesi upacara di lapangan itu jelas tidak mungkin lagi.

Seolah meneguhkan makna tema Upacara Kebo Ketan VII Mangulah Ngelmu Bangkit, mereka segera bangkit dari kondisi krisis. Berkumpul di Ndalem Alit Sekaralas, mereka rapat dipimpin Muhammad Djibriel Ash Salsabiel didampingi Aliem Bachtiar, Sugiyono dan Deni Dumbo, sambil berkomunikasi dengan Bramantyo Prijosusilo, sang inisiator, yang kini bermukim di Australia.

Tari Bedhaya

Prosesi upacara tetap diadakan tetapi tempatnya di Rumah Tua Sekaralas. Panitia dan pengisi acara dari berbagai kota kompak, solid, dan saling menguatkan.

Selepas Magrib prosesi Upacara Kebo Ketan VII pun dimulai. Diawali kirab budaya oleh Lembaga Kebudayaan Jawa Sekar Pangawikan pimpinan R. Bambang Nursinggih, SSn dan sebagian pengisi acara, bergerak dari Ndalem Alit menuju Rumah Tua Sekaralas. Suasana terasa sakral saat puja doa mantra dilantunkan dalam temaram lampu obor yang dipasang sepanjang jalan.

Usai menyanyikan lagu Indonesia Raya Tiga Stanza, dilakukan penyucian Sang Kebo Ketan oleh Rama Padma dengan Keris Kalamancur dan penyembelihan Sang Kebo Ketan oleh AB Setiadji.

Darah yang mengucur dari Sang Kebo Ketan seolah membakar jiwa, membangkitkan semangat dan menyatukan daya. Chaos terjadi saat digelar Reog Mahesa Nempuh Kraton Ngiyom. Lautan manusia yang memenuhi halaman Rumah Tua Sekaralas seperti tran mengiringi dentuman irama Mahesa Nempuh. Energi yang sempat tercerai berai karena badai, telah kembali dan mengumpul di Rumah Tua Sekaralas. Fenomena alam di luar nalar direspon dengan ikhlas hingga melahirkan karya kolosal yang fenomenal dan dasyat.

Chaos makin menjadi saat tampil grup band Marjinal asal Jakarta. Ribuan manusia berjingkrak larut dalam gelora penuh suka cita. Seolah memuncaki chaos musikal, tampil Encik Sri Krishna & Friends yang membawakan lagu Celeng dan Asu-Asuan.

Rumah Tua Sekaralas pun mendidih setelah seluruh energi dan spontanitas ditumpahkan. Musisi dan penonton menyatu tiada jarak, saling memberi kehangatan setelah dua tahun jeda pandemi. Suasana melandai saat digelar Tari Bedhaya Kebo Ketan Ngawi dan simbolisasi pembakaran Mahesa Dahana menuju kesempurnaan beriring suara kentungan yang bertalu-talu.

Encik Sri Krishna & Friens tampil menyatu dengan penonton di Rumah Tua Sekaralas

Hadir dan memberi sambutan Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko MH MSi dan Dian Sasa Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur dari Fraksi PDIP. Mereka tetap mengapresiasi pelaksanaan Upacara Kebo Ketan yang telah menginjak tahun ke tujuh sehingga nama Ngawi dikenal di dunia internasional.

Acara yang ditandai dengan pembagian jadah dan wajik oleh Dimas Diajeng Ngawi, perlambang Merah Putih, seolah mengunci ke arah mana upacara yang sarat narasi dan mitos ini diorientasikan. (Wahjudi Djaja)

 

 

 


share on: