Dari Kirab Palakiyah, Reza Mardhika Ajak Selamatkan Local Wisdom

share on:
Fauzi Allaudien Reza Mardhika berkesempatan membawa bendera pusak || YP-Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (KEBUMEN) - Tiap daerah memiliki kekhasan masing-masing yang bila dikelola dengan benar akan menjadi cirikhas. Seperti adat tradisi Palakiyah yang ada di Kebumen yang belum tentu dimiliki kabupaten lain. Maka pemerintah kabupaten perlu mengidentifikasi local wisfom yang dimilikinya.

Demikian perbincangan yogyapos.com dengan eksponen pemuda Kebumen dr. Faiz Alauddien Reza Mardhika di sela-sela perayaan kirab budaya Palakiyah di desa Watulawang, Pejagoan, Kebumen, Jawa Tengah, Kamis (27/7/2023) sore. 

Sebagai warga Kebumen, lanjut alumni FK UGM ini, Reza sangat surprise dengan kirab budaya Palakiyah. “Saya yakin banyak masyarakat Kebumen yang tahu tradisi ini. Ini sebuah simbol bagaimana warga masyarakat memanjatkan rasa syukur kepada Allah dengan cara yang mereka yakini atas limpahan rezeki selama satu tahun,” tandas Ketua DPD Partai Nasden Kebumen ini.

Ditanya soal strategi kebudayaan untuk mempertahankan adat dan tradisi budaya, Reza menyebut perlunya pemerintah memahami secara mendalam tentang local wisdom.

“Saya pikir kekhasan suatu daerah itu menjadi kekuatan. Yang membuat indah hidup ini adalah keanekaragaman budaya. Soul atau jiwa itu perlu digali secara mendalam. Dan ini butuh keberpihakan, political will, dari pemerintah daerah,” jelas caleg DPRD Jateng .

Para pemangku adat dan budaya, lanjut pria 30 tahun ini, perlu menjelaskan dan mengedukasi masyarakat seperti apa definisi dan konsep tentang adat dan tradisi. “Warga memiliki cara tersendiri untuk berdoa kepada Allah sesuai dengan apa yang mereka yakini dan jalani,” jelasnya.

“Pesan saya kepada masyarakat, budaya itu suatu aset yang harus dilestarikan. Selain sebagai perekat, juga menata tingkah laku masyarakat. Inilah kenapa kebudayaan harus dilestarikan,” pungkasnya.

Sebelum mengikuti Kirab Budaya Palakiyah Reza terlihat berziarah di makam Kuwu Watulawang dan menyaksikan jejak sejarah purbakala didampingi budayawan Kebumen Ravie Ananda, SPd, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (KASAGAMA) Wahjudi Djaja SS MPd, Lurah Watulawang Wasita dan tokoh masyarakat Mukeri.

Fauzi Allaudien Reza Mardhika berkesempatan membawa bendera pusaka yang disimpan turun-temurun oleh kepala desa yang menjabat di Watulawang sejak 1945. Setelah kirab selesai, Reza beramah tamah dengan para tokoh masyarakat dan kalangan pemuda. (Iud)

 

 

 


share on: