Dani Satria: Menteri Ketenagakerjaan Kabinet Merah Putih Bawa Harapan Baru

share on:
Menteri Ketenagakerjaan, Prof Yassierli || YP-Ist

Yogyapos.com (KENDAL) - Presiden Prabowo Subianto melantik 48 menteri anggota Kabinet Merah Putih masa jabatan 2024-2029 di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/10/2024).

Selain itu, juga turut dilantik pula enam pejabat negara setingkat menteri. Salah satu menteri yang dilantik adalah Prof Yassierli sebagai Menteri Ketenagakerjaan.

Pemerhati Ketenagakerjaan Dani Satria menilai bahwa penunjukan Menteri Ketenagakerjaan dari kalangan profesional akan membawa harapan baru dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia.

Menurut Dani, profil Prof Yassierli sebagai seorang akademisi profesional yang juga pernah menjadi Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB). Dani berharap, Prof Yassierli dapat meningkatkan kuantitas lapangan kerja berkualitas di Indonesia.

“Sektor ketenagakerjaan perlu banyak transformasi untuk menuju Indonesia Emas 2045. Saya berharap dengan adanya menteri ketenagakerjaan yang baru ini dapat meningkatkan kuantitas lapangan kerja berkualitas. Sehingga mampu mendorong perusahaan dalam menyerap angkatan kerja yang berusia produktif semaksimal mungkin,” kata Pemerhati Ketenagakerjaan, Dani Satria, melalui siaran persnya di Kendal, Jawa Tengah, Selasa (22/10/2024).

Menurut Dani, pengalaman Prof Yassierli yang luas tentang ranah ketenagakerjaan seperti keselamatan kerja, rekayasa kerja dan ergonomi diprediksi dapat membawa banyak perubahan. Ditambah lagi, Prof Yassierli juga didampingi oleh Wamen Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer yang juga seorang aktivis. Harapannya, berbagai permasalahan tentang isu perburuhan dapat terselesaikan dan bisa saling bersinergi.

“Keberadaan Prof Yassierli di Kemenaker ini tentu akan membawa harapan baru dan sekaligus selaras dengan visi Kabinet Zaken Presiden Prabowo yang akan berisi figur profesional,” imbuh Dani.

Seperti diketahui, berdasarkan trend yang ada, profil menteri ketenagakerjaan selama dua puluh tahun terakhir lebih didominasi oleh kalangan politikus partai, ketimbang profesional akademisi. (*)


share on: