Yogyapos.com (SLEMAN) - Tradisi wiwit panen yang merupakan tinggalan kebudayaan leluhur memiliki peran penting dalam kehidupan petani. Mereka mempunyai sistem religi yang berbasis spiritual, yakni meyakini kekuasaan Tuhan yang telah memberikan anugerah berupa bumi atau tanah yang subur. Wujud rasa syukur yang ditandai dengan perayaan wiwitan panen ini perlu dikembangkan untuk memajukan kebudayaan dan pariwisata di Sleman.
Demikian intisari sambutan Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa SE saat perayaan Wiwitan Ageng di Dusun Mutihan, Madurejo, Prambanan, Sleman, Kamis (5/5/2022) sore. Hadir dalam acara tersebut Plt. Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Ir Suparmono MM yang juga menjabat Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Kepala Dinas Kebudayaan Sleman Edy Winarya SSn MSi, Panewu Prambanan Ishadi Zayid SH dan anggota Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS).

Kirab budaya Wiwit Ageng || YP-Ist
Dalam pengarahannya Danang Maharsa sangat mengapresiasi atas adanya inisatif untuk mengadakan upacara wiwitan. “Ini merupakan salah satu tradisi nenek moyang untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah atas limpahan berkah sehingga bisa panen padi. Tradisi ini bisa dijadikan teladan bagi dusun atau desa lain di Sleman sebagai bagian pengembangkan kebudayaan,” tandasnya.
Kita berharap, lanjutnya, tahun depan bisa dikelola dan dikembangkan lebih besar lagi. “Tradisi wiwit panen ini juga dijadikan media untuk menjaga tradisi budaya sekaligus sebagai pancingan pengembangan kebudayaan, pariwisata dan hiburan bagi masyarakat”, imbuhnya.
Menurut Ketua Kelompok Tani Eko Mulyo, Widodo, tradisi wiwit panen sudah mengakar dalam kehidupan petani di Kalurahan Madurejo. Sedangkan menurut Lurah Madurejo, H Sumadi, petani dusun Mutihan sejak dulu tergolong maju. "Perayaan ini merupakan ungkapan syukur kami atas berkah Tuhan sehingga bisa panen padi. Kami berharap ini bisa mengangkat potensi desa. Apalagi banyak cagar budaya yang belum diangkat menjadi destinasi. Misalnya dam Grembyangan atau yang kini disebut bendung Tirtarejo di Kali Opak", tandasnya.

Gunungan sebagai ubo rampe tradisi Wiwitan || YP-Ist
Perayaan Wiwitan Ageng Kelompok Tani Eko Mulyo dimeriahkan dengan kirab bregodo goprak, gunungan sega wiwit, hasil bumi petani, gendhing tani, serah terima sesaji (uba rampe) upacara adat wiwit kepada Mbah Kaum Mutihan. Selain itu juga dihibur dengan fragmen tari Dewi Sri dan kembul bujana. Wakil Bupati Sleman berkenan mengawali Wiwitan Ageng dengan memotong padi menggunakan ani-ani diikuti para pejabat yang hadir. (Iud/Agung DP)
