Yogyapos.com (SLEMAN) - Dampak penghentian sementara aliran air pada Selokan Mataram untuk kepentingan pemeliharaan saluran makin meluas, sejumlah padukuhan di wilayah Kalurahan Banyurejo Kapanewon Tempel mulai merasakan krisis air bersih. Hal ini berdampak kepada ratusan jiwa dalam tiga padukuhan kesulitan mengakses air bersih.
Jogoboyo Kalurahan Banyurejo, Irwan Darmanta didampingi Aris Hidayat selaku anggotaTRC BPBD Sleman mengatakan dari 14 Padukuhan di Banyurejo, sebanyak 3 padukuhan masuk dalam daerah rawan kekeringan dibuktikan dengan permukaan air sumur yang menyusut drastis, bahkan ada sumur milik warga yang airnya mengering sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.
“Kekeringan ini lantaran aliran air selokan Mataram dihentikan sementara, selama ini belum pernah terjadi kekeringan meski masuk musim kemarau. Tiga padukuhan yang sudah kita data yakni Tangisan, Jambeyan dan Plambongan, ini masih data sementara,” jelas Irwan disela melakukan pendataan di Padukuhan Tangisan, Jumat (9/9/2022).
Menurut dia, wilayah terdampak didominasi lokasi yang terletak di sisi Selatan bangunan Selokan Mataram Padukuhan Tangisan sejumlah warga yang merasakan kesulitan mendapatkan air bersih di Padukuhan Tangisan terdapat di RW 09 dan RW 10 terdiri sekitar 28 kepala keluarga (KK).
“Lalu di padukuhan Jambeyan Kajoran RT 04 RW 08 terdampak 38 KK sekitar 101 jiwa, Kajoran RT 05 RW 08 ada 57 KK jumlah 144 jiwa, kemudian di Jambeyan di RW 07 yang terdiri RT 1 RT 2 RT 3 07 Jambeyanterdampak sumur debit air berkurang pada 101 KK dengan jumlah warga 214 jiwa, Plataran RT 06 RW 08 Jambeyan terdampak 36 kk 101 jiwa,” jelasnya.
Aliran air selokan Mataram dihentikan sementara karena ada pemeliharaan || YP-Eko Purwono
Sejumlah sumur kondisi air masih ada, namun demikian sambung dia, debit air jauh berkurang. Untuk memenuhi kebutuhan pokok harian masih mencukupi namun harus dengan penghematan dalam pemanfaatannya. “Beberapa sumur air cukup keruh. Kami telah berkoordinasi dengan dukuh untuk langkah selanjutnya akan diusahakan bak penampungan air atau HU,” katanya.
Dukuh Tangisan Anisatul Dian Pramudita menambahkan bahwa kejadian krisis air bersih ini baru pertama kali terjadi di wilayahnya, bahkan saat musim kemarau tidak seperti sekarang. Salah satu contoh pada sumur milik Ndriyo Wijoyo di Tangisan II RT 3 RW 10 saat ini airnya nyaris kering.
“Ada gejala (kekeringan) mulai terasa sejak pertengahan bulan Agustus 2022, sejak air selokan dihentikan sementara, ada salah satu sumur warga yang benar-benar kering, ada juga yang menyisakan air cukup untuk sekitar empat ember saja, selain itu area persawahan mengalami kekeringan sekitar lebih dari 15 hektar, namun sebagian warga berupaya mengaliri sawah menggunakan pompa air, kami berharap segera ada solusi,” imbuh Dian.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa SE saat dikonfirmasi menyatakan akan melakukan koordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) dan Dinas Pertanian.
“Aliran air Selokan Mataram selama ini merupakan bagian sarana untuk mendukung kegiatan bertani juga kegiatan masyarakat yang lain, kita akan koordinasi dengan BBWSSO,"jelas Danang.
Pihak BBWSSO saat dikonfirmasi hingga berita ditulis belum memberikan jawaban. Sebelum hal yang sama dialami juga warga Padukuhan Susukan II di Kalurahan Margokaton Kapanewon Sleman, BPBD Sleman telah mendistribusikan sir bersih menggunakan truk tangki untuk ditampung dalam HU atau Hidran Utama. (Opo)
