Yogyapos.com (SLEMAN) - Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menghadiri Peringatan Sarasehan Pertempuran Rejodani 29 Mei 1949, di Monumen Palagan Rejodani Sariharjo Ngaglik Sleman, Minggu (29/5).
Hadir dalam kegiatan yang diselenggarakan Tunas Patria Brigade 17, antara lain Wakil Ketua Tunas Patria Pakde Bambang Sasongko, Panewu Ngaglik Dra Siti Wahyu Purwaningsih, para remaja dan tokoh masyarakat.
Bupati Kustini mengungkapkan, pertempuran Palagan Rejodani menunjukkan keteguhan hati para pahlawan Tentara Pelajar yang tidak goyah meski jumlahnya kalah banyak dibanding tentara Belanda. Namun kebenaran membuktikan bahwa mereka tidak mudah menyerah. Semangat yang ditunjukan para pahlawan dan pejuang, rela tanpa pamrih demi kedaulatan bangsa dan negara.
Patriotisme terseut kiranya dapat menginspirasi kita untuk melakukan hal serupa dalam mengisi kemerdekaan membangun negeri menuju masyarakat Indonesia sejahtera sebagaimana yang dicita citakan pendahulu negeri sesuai kemampuan dan profesi masing-masing.
“Melalui kesempatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran tiap insan masyarakat untuk lebih menghargai jasa serta pengorbanan para pahlawan karena Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawan," ujarnya.
Bupsti juga mengajak seluruh yang hadir untuk meneruskan perjuangan para pahlawan serta berharap para generasi muda Sleman untuk meneladani tekad kuat para pahlawam kita dalam memperjuangkan cita-citanya.
Sementara itu, Panewu Ngaglik Dra Siti Wahyu Purwaningsih menyatakan selaku generasi penerus wajib untuk mengerti bahwa di Munomen pernah terjadi pertempuran yang luar biasa mengakibatkan gugurnya putra-putra terbaik bangsa.

Pihaknya yakin walau para pejuang itu sudah wafat tetapi putra dan keturanannya akan bangga. Bahkan kita yang bukan keturunanya juga bangga, apalagi keluarga dan anak keturunan lebih bangga dan itu wajar serta Kapanewon tetap berupaya menjaga monumen kebanggaan warga.
"Saya berharap kedepan betul-betul kita akan mengadakan upacara seperti upacara memperingati hari pahlawan lebih meriah dan khidmat. Seluruh lurah yang ada di kapanewon Ngaglik diundang agar mereka tahu bahwa kita punya tempat sejarah untuk pertempuran," tandasnya.
Dalam kegiatan sarasehan tersebut hadir pula anak pelaku pertempuran Palagan Rejodani Supanduko yang bergabung dalam TP Brigade 17, Agus Bakti Sedjatiawan. Ia menceritakan, pada malam Minggu, 29 Mei 1949 atau 73 tahun yang lalu, Ayahnya terkena timah panas. Sementara kakaknya Supranoto bersama temannya Suradi (adik mantan menteri Radius Prawiro), Karna Radjasa (putra mantan Perdana menteri Mr Ali Sastroamidjojo) masih betsenda gurau. Intinya mereka para anggota Tentara Pelajar (TP) 17 bila mati, ingin pertama kali yang mati duluan dalam menghadapi Belanda. Tenyata betul pada esok harinya, terjadi pertempuran hebat di Palagan Rejodani. Dan yang terjadi, kakak ayahnya pertama kali gugur setelah melumpuhkan beberapa tentara Belanda. Ada 23 tentara Belanda yang mati, sedangkan anggota TP gugur kemudian dimakamkan. Kini untuk mengenang peristiwa tersebut diabadikan untuk nama jalan yakni Jalan Palagan Tentara Pelajar. (Agn)
