Yogyapos.com (SLEMAN) - Mengelola desa wisata gampang-gampang susah. Selain kian menjamur, kebanyakan para pengelola desa wisata kurang konsisten dan agresif dalam mempromosikan destinasinya. Maka diperlukan terobosan inovatif agar desa wisata yang menjadi cirikhas Sleman bisa tetap diminati wisatawan.
Demikian benang merah Talk Show Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) memeriahkan Pameran Potensi Daerah (PPD) Sleman di stand Dinas Pariwisata Sleman kompleks Lapangan Denggung, Sabtu (15/7/2023) malam.
Talk Show menghadirkan Ketua Desa Wisata (Deswita) Brayut, Dharmadi dan Ketua BPPS Agung Sasongko, MPar dengan moderator Wahjudi Djaja SS MPd (STIE Pariwisata API Yogyakarta.
“Ada tiga hal yang kami gerakkan selepas pandemi Covid-19. Kami tingkatkan layanan wisatawan, diversifikasi paket wisata, dan meningkatkan leng of stay yakni lama tinggal wisatawan. Dari ketiganya, kebanyakan wisatawan yang datang merupakan repeater atau langganan kami,” tandas Dharmadi.
Antusiasme pengunjung dalam atraksi Kampung Wisata || YP-Wahjudi Djaja
Beragam atraksi budaya, lanjutnya, pun dikembangkan dan ternyata banyak diminati para wisatawan. “Kami memiliki setidaknya 26 omah Jawa dalam beragam model yang kuna dan terjaga. Dengan promosi yang gencar, beragam kalangan datang ke deswita Brayut. Bahkan sudah 14 kali kami menerima order dari insan film untuk shooting,” katanya bangga.
Sementara itu, Agung Sasongko mengapresiasi kesigapan para pengelola Deswita Brayut, Pandowoharjo, Sleman dalam menangkap peluang. “Itu bisa dijadikan contoh para pengelola desa wisata lain di Sleman agar tetap eksis dan sigap. Kami di BPPS tentu sangat senang untuk membantu memprosikan termasuk menggelar event di Brayut. Dengan potensi beragam model omah Jawa, bisa saja kelak kita gelar acara budaya atau lomba foto tematik,” ungkapnya.
Selain menggelar Talk Show, Dinas Pariwisata Sleman juga memperkenalkan beragam satwa reptil dari Kampung Satwa Kedung Banteng Sumberagung Moyudan Sleman. Pengunjung sangat antusias melihat dan memegang beragam jenis reptil yang hanya sebagian dibawa. Banyak anak-anak yang memegang ular dan diabadikan orang tuanya.
“Selain sebagai sarana rekreasi dan konservasi, ini adalah bagian dari edukasi. Kami menghadirkan edukasi satwa, tumbuhan dan lingkungan ekologinya. Sebagai sesama makhluk di muka bumi, manusia selayaknya saling mengenal dan menyayangi. Jangan diburu agar keseimbangan alam tidak terganggu,” jelas Hanif, Pengelola Kampung Satwa.
“Kampung Satwa dikonsep sebagai pioner living laboratory. Kami mendapat dukungan dari Fakultas Biologi UGM, Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Fakultas Saintek UIN, BKSDA Yogyakarta, BKIPM Yogyakarta dan berbagai Komunitas Pecinta Satwa serta aktivis Lingkungan dan Yayasan Wahana Gerakan Lestari Indonesia (Wagleri),” tandasnya. (Iud)
