Yogyapos.com (SLEMAN) - Hampir semua desa atau kalurahan di Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki hari jadi yang sama. Hal ini didasarkan pada keluarnya Maklumat Nomor 5 Tahun 1948 tentang Perubahan Daerah-daerah Kelurahan. Meskipun begitu, dalam konteks keistimewaan tiap-tiap kalurahan selayaknya menggali unsur kesejarahan dan asal-usul kalurahannya sebagai bahan pembelajaran generasi mudanya.
Demikian disampaikan Dr Minta Harsana MSc saat menjadi narasumber dalam Bimtek Tata Kelola Kolaborasi Ketahanan Ekonomi di Wanadesa Tirtoadi Mlati Sleman, Selasa (23/8/2022). Bimtek yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DIY diikuti oleh para perangkat dan pegiat wisata dari Tlogoadi, Tirtoadi, Sidoarum dan Nogotirto.
Dalam sambutan pembukaannya Kabid Ketahanan Sosial, Budaya dan Ekonomi Badan Kesbangpol DIY, Drs M Sukarno Tri Pandan Raharjo MPA, menyampaikan perlunya sinergi diantara para perangkat dan pengelola wisata untuk mengatasi masalah bersama.
“Apalagi empat kalurahan dari tiga kapanewon yang hadir siang ini sama-sama memanfaatkan keberadaan Kali Bedog sebagai salah satu pusat kegiatan wisata. Jangan sampai saling menyalahkan terkait munculnya sampah dan pencemaran. Disinilah perlunya kolaborasi dari hulu sampai hilir dengan menyamakan visi dan persepsi,” ujarnya.
Lebih jauh Minta Harsana menandaskan, memang tak mudah menyamakan visi dan persepsi dalam masyarakat. Bukan hal aneh jika kemudian muncul konflik kepentingan. Para pengelola wisata juga harus tahan banting.
“Jangan menanti pujian dan ucapan terima kasih karena yang sering kita terima justru fitnah dan cacian. Ada tiga hal yang harus diperhatikan, yakni kasawang, katata, karasa,” pesan dosen UNY dan pimpinan Komunitas Kandang Kebo ini.
Narasumber sebelumnya, Anita Yuliastuti, lebih menyoroti pentingnya pemerintah kalurahan untuk membagi kewenangan yang dimiliki kepada masyarakat.
“Ada 120 kewenangan yang dimiliki kalurahan dan itu tak mungkin dikerjakan oleh perangkat yang ada. Itulah kenapa kita perlu kolaborasi. Model terbaik ada di dekat kita yakni Kalurahan Panggungharjo Sewon Bantul. Kita bisa belajar kesana dan Pak Lurah-nya terbuka menerima,” paparnya.
Sedangkan narasumber lain, Wahjudi Djaja, dari Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) mengajak para peserta Bimtek untuk segera bergerak. Ini sudah pertemuan ketiga sejak sosialisasi difasilitasi Badan Kesbangpol DIY. Mari segera action di lingkungan masing-masing dengan mengidentikasi potensi dan keunikan yang dimiliki.
“Kali Bedog ini lekat sekali dengan sejarah Kesultanan Ngayogyakarta yang pernah mesanggrah di Ambarketawang. Jika kita bergerak, itu artinya kita menjalankan amanat sejarah,” tandasnya.
Selesai Bimtek dilanjutkan dengan deklarasi Paguyuban Pametri Kali Bedog (PPKB). Dalam musyawarah sebelumnya terpilih Ahmad Yani dari Desa Wisata Religi Mlangi sebagai ketua. (Iud)
