SEJARAH Mataram mencatat dua entitas yang menandai terjadinya diaspora selepas Perjanjian Bongaya 18 November 1667 antara Sultan Hasanudin dengan Speelman (VOC). Keduanya adalah Daengan dan Bugisan yang dikenal sebagai nama prajurit kraton dan nama kampung di Yogyakarta. Tak banyak yang tahu bahwa keberadaan mereka bukan hanya di lingkup benteng Kraton Yogyakarta tetapi juga di luar benteng, yakni di Mlati dan Tridadi, Sleman.
Di tepi jalan Magelang KM 11 terdapat Dusun Beteng yang masuk wilayah Kalurahan Tridadi, Kapanewon Sleman. Dusun berpenduduk 913 jiwa ini ternyata memiliki situs sejarah penting yang bisa menjadi mata rantai dalam upaya merajut sejarah era Mataram.
Bersama Widodo warga Beteng, yogyapos.com pada Minggu (14/8/2022) mencoba melacak jejak sejarah berupa bekas benteng yang diduga berasal dari era Belanda.
"Mriki sering pun sebat Beteng Bugisan. Mbok bilih wonten gandheng cenengipun kalian benteng puniko,” katanya sambil menunjukkan letak Benteng Bugisan.
Bugisan yang melekat pada nama benteng dan dusun tersebut mengingatkan kita pada nama kampung yang menjadi pilar Kesultanan Ngayogyakarta. Laman resmi kebudayaan.kemdikbud.go.id, menyebut ada tiga tipe kampung yakni kampung berdasar nama dalem pangeran dan bangsawan, kampung berdasar nama keahlian abdi dalem dan kampung berdasar tempat tinggal abdi dalem prajurit keraton.
Keberadaan prajurit Bugis memang fenomenal. Mereka amat ditakuti di perairan Nusantara. Mereka menyebar ke berbagai wilayah sejak VOC menguasai Kerajaan Gowa.
Sejarah mencatat kehadiran suku Bugis di Bumi Mataram terjadi pada masa pemerintahan Amangkurat II (Sunan Amral) yang memerintah tahun 1677-1703. Sedangkan Prajurit Bugis tercatat ada sejak peristiwa pemulangan Ratu Bendara oleh Mangkunegoro I dari Kadipaten Mangkunegaran ke Kesultanan Ngayogyakarta.
Untuk mengantisipasi kemarahan Hamengku Buwono I, Mangkunegoro menyiapkan prajurit Bugis untuk mengawal Bendoro. Ternyata, kedatangan prajurit Bugis tersebut justru disambut dengan tangan terbuka oleh Hamengku Buwono I.
Para pengelola komplek Pancuran Sempor
Dalam catatan Khamyali, tokoh budaya Beteng, Belanda membuat benteng dengan ukuran 4x3 m, tinggi 2,5 m dengan ventilasi 8x40 cm, dengan atap melengkung 130 cm x tinggi 180 cm dan memuat 22 orang.
“Bisa jadi benteng tersebut merupakan bagian dari strategi Benteng Stelsel yang diterapkan Belanda untuk menghadang laju pergerakan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Mulai saat itu daerah tersebut terkenal dengan sebutan Beteng,” tulisnya.
Tak jauh dari Benteng Bugisan, yakni di Dusun Beningan, Sendangadi, Mlati, Sleman terdapat makam tiga puluh dua prajurit dari Gowa. Kedua jejak tersebut menjadi saksi sejarah keterlibatan orang Bugis-Makassar dalam dinamika politik lokal yang sedemikian lama.
Di kompleks makam Mlati tersebut juga terdapat makam Wahidin Soedirohoesodo, seorang pahlawan nasional yang mendorong lahirnya Budi Utomo. Beliau ternyata memiliki leluhur keturunan Bugis Makassar yakni Daeng Naba.
Keberadaan benteng dan pancuran Sempor di Dusun Beteng Kalurahan Tridadi yang merupakan jejak sejarah menjadi modal pengembangan pariwisata berbasis karakter dan minat khusus. Terkait dengan itu, Lurah Tridadi, Sri Hartati menaruh harapan, bahwa tiap padukuhan bisa berkembang dan berdaya sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
“Demikian juga Pisangan dan Beteng, harapannya bisa menjadi satu kawasan wisata yang saling menguatkan. Dusun Beteng mempunyai potensi Benteng Bugisan yang bersejarah, sumber air yang mempunyai nilai spiritual dan budaya, sedangkan Dusun Pisangan potensi wisatanya berbasis pertanian dan pendidikan. Ke depan, keduanya akan saling memperkaya dan menguatkan wisata yang ada sehingga potensi tersebut benar-benar bisa menjadi sumber pendapatan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan lahir batin warganya,” tandasnya.
Sedangkan Kepala Dukuh Beteng Joko Triyono menyampaikan bahwa keberadaan pencuran Sempor memiliki makna tersendiri bagi para wisatawan spiritual. “Kami sudah melakukan uji laboratorium ternyata materialnya memang masih mengandung mineral air murni. Sehingga kalau digunakan sangat menyehatkan. Secara non medis, pancuran Sempor dipercaya bisa sangat bermanfaat bagi batin. Ke depannya, peninggalan nenek moyang ini harus dilestarikan dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kita akan mengembangkan kawasan destinasi minat khusus dengan kuliner dan homestay serta sarana penunjang,” tuturnya.
Sementara itu Wahjudi Djaja dari Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) menyampaikan pentingnya membangun sinergi antardestinasi. "Potensi alam, sejarah, budaya, kuliner, dan UMKM yang dimiliki Dusun Beteng dan Pisangan bisa menjadi kekuatan selama dikelola dengan benar. Jejak sejarah yang ada bisa dijadikan paket wisata edukasi mengingat keberadaannya belum banyak diketahui publik,” jelasnya. (Iud)
